Gempa Megathrust Ancam Jakarta

Gempa Bumi di Lebak, Banten, Januari 2018 lalu terasa hingga di Jakarta.
Sumber :
  • REUTERS/Darren Whiteside

Dan, Jakarta hanya mendapat dampak, karena pusat gempa bukan di Jakarta. Sebab potensi guncangan besar itu datang dari zona megathrust, yang justru tak terdapat di Jakarta.

Ancaman Megathrust

Soal ancaman gempa  hingga magnitudo 8,7 itu mencuat setelah BMKG bersama Ikatan Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (IKAMEGA) dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar diskusi bertema, "Gempa Bumi Megathrust 8,7, Siapkah Jakarta?"

Menurut Kepala Tim Informasi BMKG, Daryono, apa yang disampaikan dalam diskusi tersebut adalah kajian dari tim ahli, yaitu Tim Pemutakhiran Peta Gempa Nasional. Pada tahun 2012 tim ini sebenarnya sudah mengemukakan bahwa zona megathrust di selatan Pulau Jawa mampu membangkitkan gempa bumi berkekuatan Magnitudo 8,1.

Data tersebut juga diperkuat oleh sebuah disertasi doktor dari Rahma Hanifa (2014) di Nagoya University yang berjudul “Interplate Earthquake Potential off Western Java, Indonesia, Based on GPS Data.”  Disertasi itu menyebutkan, zona megathrust selatan Jawa Barat dan Banten berpotensi memicu gempa dengan magnitudo 8,7.

"Terakhir, hasil kajian Pusat Studi Gempa Nasional-PUSGEN (2017) dalam buku “Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017” juga mengungkap bahwa zona Megathrust selatan Jawa Barat dan Banten memiliki potensi gempa dengan magnitudo maksimum 8,8," ujar Daryono kepada VIVA yang menghubunginya, Rabu, 21 Maret 2018.

Menurut Subardjo dari Ikatan Alumni Akademi Metereologi dan Geofisika (IKAMEGA), ancaman gempa besar itu potensinya sudah lama muncul. Ia bersama dengan tim dari Jepang sudah melakukan penelitian soal ancaman Megathrust sejak tahun 1986. "Tahun 1986, kami melakukan penelitian geofisika selama 40 hari di selatan Jawa, menyusuri Lautan Hindia dari Jawa sampai Bali, dan memasang alat seismograf juga," tuturnya.

Subardjo mengatakan, ada dua ancaman Megathrust yang perlu diwaspadai, yaitu Megathrust Jawa Barat dan Jawa Tengah, dan Megathrust Selat Sunda. "Keduanya memiliki potensi magnitude 8,7. Dan selama 30 tahun ahli dari Jepang meneliti itu," ujarnya.

Menurutnya, hal tersebut dilakukan bukan untuk menakut-nakuti, tapi agar pemerintah dan warga menyiapkan diri jika ancaman itu benar terjadi.

Subardjo juga menyampaikan kekhawatirannya soal potensi gempa di Selat Sunda, karena di wilayah tersebut sudah lama tak terjadi gempa besar. Khawatirnya, jika sewaktu-waktu terjadi gempa, maka energi yang terlepas juga besar.