Gempa Megathrust Ancam Jakarta
- REUTERS/Darren Whiteside
Ia menuturkan, cerita tentang gempa besar landa Jakarta (dulu bernama Batavia) sudah dimulai pada 1699. Gempa berkekuatan M (magnitudo) 8 hingga 9 itu dipaparkan Phil R Cummins dari Research School of Earth Sciences dari Australian National University and Geoscience Australia dalam simposium internasional bertema 'Bencana Kebumian dan Mitigasi Bencana' yang diadakan di Institut Teknologi Bandung, Bandung, pada Senin 19 Oktober 2015. Saat itu Mbah Rono menjadi salah satu pembicara.
Sekitar 88 makalah dipaparkan peneliti dari dalam dan luar negeri dalam simposium dua hari ini. Mbah Rono bercerita, kata Phil, guncang gempa Batavia (Jakarta) tahun 1699 dan 1778, itu lebih dari 7 MMI -Modified Mercalli Intensity. Kerusakan parah terjadi di Batavia dan sekitarnya. Skala MMI dipakai untuk mengukur kekuatan gempa. Skala MMI 7 termasuk kuat dan merusak bangunan yang tak didesain tahan gempa.
Mbah Rono juga mengatakan, data gempa besar di Jakarta itu dilacak dari dokumen Belanda, salah satunya dari katalog gempa Arthur Wichman. Katalog itu disusun Wichman untuk disertasinya di Royal Academy of Sciences in Amsterdam pada 1918.
"Dalam katalog itu mencatat, gempa amat kuat dirasakan di Jakarta pada 5 Januari 1699 sekitar pukul 01.30, saat hujan lebat. Merobohkan banyak bangunan, menyebabkan longsor besar di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak. Banjir bandang berisi lumpur dan kayu di Sungai Ciliwung di Batavia, mengalir ke laut," ujarnya menjelaskan.
Selain itu, gempa kuat juga terjadi di Jakarta pada 1780. Kekuatan gempa diperkirakan lebih dari 8 MMI. Gempa tersebut kemungkinan bersumber Sesar Baribis atau bisa juga dari interslab. Kemungkinan lebih besar dari Sesar Baribis, membujur di Majalengka, Kuningan dan seterusnya ke Barat-Timur. "Jakarta itu, ada jarum satu saja ributnya minta ampun," ujarnya.
Ia menegaskan, cerita gempa Megathrust ini menjadi CLBK yang cengeng karena berulang-ulang tanpa tindakan nyata.
Sejumlah siswa berlindung di bawah bangku saat simulasi gempa bumi dan tsunami. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Sampai sekarang, ia tak mendapati ada kurikulum sekolah yang mengajarkan evakuasi diri jika terjadi gempa, evakuasi tanpa kepanikan. "Jadi ceritanya akan gitu-gitu saja. Hanya menakut-nakuti masyarakat tanpa suatu tindakan yang riil," ujarnya. Padahal, persiapan untuk antisipasi itu adalah hal yang riil.