Dari Singosari hingga Majapahit

Arca Prajnya Paramita di Candi Singasari
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dyah Pitaloka

“Ini adalah arca Prajnya Paramita yang terbaik di Indonesia. Arca yang asli dahulu sempat dibawa ke Belanda sebelum dikembalikan ke Museum Nasional di Jakarta,” katanya menerangkan.

Berbeda dengan Dewi Parwati, arca Ken Dedes hingga saat ini masih tanpa kepala.

Sosok dua dewi yang berada di halaman Candi Singosari diperkirakan berasal dari candi lain di sekitar Singosari yang hancur. Diperkirakan, ada tujuh candi lain ketika Singosari dibangun pada tahun 1267 dan terbengkalai di tahun 1292.

Candi Hindu yang kini memiliki ketinggian 17 meter dan berkiblat ke Timur itu ditemukan tahun 1803 oleh Belanda dan sempat dipugar satu kali pada tahun 1943 hingga 1947. Bangunan tujuh candi lain yang ada di sekitar telah hilang dan banyak digunakan sebagai fondasi jalan dan bangunan penduduk setempat.

Di masa Kerajaan Singosari yang hanya berusia sekitar 70 tahun, dari tahun 1222 hingga 1292, candi itu juga tak pernah tuntas dibangun. Candi utama saat ini memiliki enam ruangan dengan empat ruangan di bagian bawah menyisakan satu arca saja, yaitu arca Dewa Siwa Guru di sisi Selatan. Arca lain di empat ruangan sudah diboyong ke Museum Nasional dan juga di Leiden, Belanda.

“Ada arca Nandiswara, Ganesha, Dewi Durga Mahesasura Nandini dan arca Parwati. Sebagian besar arca masih disimpan di Leiden, Belanda,” katanya.

Candi tersebut dibangun dari tumpukan batuan andesit yang kemudian diukir dari atas ke bawah. Itu sebabnya, relief dan ukiran candi paling lengkap ada di bagian puncak. Mahakala, makhluk gaib penjaga pintu telah diukir sempurna di bagian atas, berbeda dengan ukiran Mahakala di bagian bawah.

Candi itu tak pernah tuntas dibangun setelah Kertanegara diserang oleh Kerajaan Kadiri.

Ketika Majapahit berkuasa sejak abad 14 sampai 16, candi itu dibiarkan terbengkalai, seperti yang tersisa saat ini.  Hayamwuruk, yang membawa Majapahit berkuasa hingga ke Semenanjung Malaya, sengaja membiarkan candi utama Singosari tak terbangun tuntas.

“Dari catatan Negarakertagama Hayamwuruk merenovasi 28 candi peninggalan leluhurnya di Jawa Timur, termasuk candi milik raja Singasari dan juga Kajuruhan. Singasari sengaja dibiarkan tak tuntas,” kata Arkeolog asal Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono.