- VIVA.co.id/Juna Sanbawa
VIVA.co.id - Libur panjang Natal dan tahun baru telah tiba. Sejumlah destinasi wisata di Tanah Air bakal kembali diserbu pengunjung. Yogyakarta adalah salah satunya.
Selain ingin merayakan hari besar keagamaan dan melewatkan malam pergantian tahun, tak sedikit yang sekadar pulang kampung bertemu keluarga sambil berwisata. Sejumlah objek wisata di Yogyakarta pun siap menyambut para wisatawan.
Kota Pelajar ini menyimpan banyak objek wisata yang memiliki nilai sejarah. Yang sudah terkenal adalah Keraton Yogyakarta, Tamansari, Puro Pakualaman, Prambanan hingga benteng Keraton Yogyakarta.
Namun, di kala libur panjang Natal dan tahun baru seperti saat ini, untuk mengunjungi objek wisata bersejarah tersebut butuh perjuangan. Jalan menuju lokasi bakal dipenuhi kendaraan roda empat dan dua. Kemacetan bisa tak terhindarkan.
Nah, bagi Anda yang tetap ingin menikmati suasana Yogyakarta dengan segala keindahan kota dan objek wisatanya, kini ada alternatif yang bisa dikunjungi. Masih banyak objek wisata bersejarah, namun relatif tidak terhambat kemacetan.
Bahkan, Anda dan keluarga tidak perlu membayar retribusi untuk masuk objek wisata bersejarah, yang kini sedang digalakkan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan pemerintah kabupaten itu.
Desa Wisata Mangir
Salah satu objek wisata bernilai sejarah dan menjadi salah satu alternatif untuk dikunjungi itu adalah Desa Wisata Mangir, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Untuk mencapai objek wisata itu, tersedia angkutan umum dari Kota Yogyakarta. Namun, untuk sampai ke lokasi, yang di antaranya terdapat objek wisata Watu Gilang, sisa kebesaran Keraton Mangir yang masih terpelihara dengan baik, akan lebih baik jika menggunakan mobil pribadi atau menyewa sepeda motor. Taksi juga bisa dipilih sebagai alternatif.
Masuk ke wilayah Desa wisata Mangir, wisatawan akan disuguhi suasana alam pedesaan yang masih alami. Akses jalan menuju petilasan Watu Gilang pun sudah diaspal dan lumayan mulus. Jelang masuk lokasi wisata itu, pengunjung akan disambut gapura yang terbuat dari bambu dan bertuliskan Selamat Datang di Desa Wisata Mangir.
Saat VIVA.co.id mendatangi Desa Wisata Mangir pada Senin 21 Desember 2015, sekira pukul 15.00 WIB, desa tersebut tampak sepi. Hujan lebat baru saja mengguyur wilayah itu.
Langkah kaki pun langsung terayun ke petilasan Watu Gilang. Sebelum masuk lokasi, pengunjung akan melewati gapura yang terbuat dari batu merah tanpa dipoles di bagian permukaannya. Terkesan seperti gapura di zaman lampau.
Setelah melewati gapura dan berjalan sekitar 10 meter, ditemui bangunan benteng dengan tinggi sekitar 2 meter, panjang 10 meter, dan lebar 7 meter. Di dalam benteng tersebut terdapat pohon randu alas yang usianya sudah puluhan, bahkan ratusan tahun. Berdiri tegak di tengah benteng.
Di sisi selatan pohon randu alas yang tampak sudah tua tersebut terdapat batu. Batu itu lah yang disebut sebagai Watu atau Batu Gilang yang dipercaya sebagai situs Keraton Mangir.
Meski di sampingnya tumbuh pohon besar dan menjulang tinggi, di sekitar petilasan Batu Gilang terlihat cukup bersih. Juru kunci Watu Gilang bernama Subakri yang kini berusia 66 tahun, rutin merawat dan membersihkannya.
"Saya itu menjadi juru kunci Watu Gilang semenjak bapak saya meninggal tahun 1998," kata Subakri kepada VIVA.co.id.
Meski tidak bercerita banyak tentang petilasan Watu Gilang, Subakri mencoba menjelaskan garis besar sejarah watu gilang, yang merupakan bekas kebesaran dari Keraton Mangir.