SOROT 376

Menjejak Pelisiran Sejarah Yogya

Desa Wisata Mangir di Yogyakarta
Sumber :
  • VIVA.co.id/Juna Sanbawa

Desa Wisata Mangir di Yogyakarta

img_title Surabaya Kota Penuh Sejarah

Usia Keraton Mangir yang lebih tua memiliki pusaka yang konon tak terkalahkan. FOTO: VIVA.co.id/Daru Waskita

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, kehadiran Kerajaan Islam Mataram sebagai penerus Kerajaan Islam Demak Bintoro dan Keraton Pajang, yang ingin mengambil Mangir menjadi bagian kekuatan Negeri Mataram dinilai cukup wajar. Karena, usia Keraton Mangir yang lebih tua memiliki pusaka yang konon tak terkalahkan.

Selain itu, Ki Ageng Mangir Wonoboyo adalah seorang pemimpin yang cerdas dan berwibawa. Panembahan Senopati menganggap Mangir sangat pantas untuk "dilamar" menjadi bagian dari kekuatan Negeri Mataram. Apalagi, sama-sama pemeluk agama Islam (Kejawen).

Karena itu lah, Panembahan Senopati membuktikan sikap yang santun dan mau berkorban, yaitu mengirimkan putrinya, Retno Pembayun untuk direlakan menjadi istri Ki Ageng Mangir Wonoboyo IV, sekaligus menyatukan bumi Mangir dengan Keraton Mataram.

"Namun, dalam perjalanannya, Ki Ageng Mangir yang sudah menjadi keluarga Penembahan Senopati, tetap saja dibunuh dan mayatnya dikubur di daerah Godean Sleman, Yogyakarta," kata Subakri.

Ki Ageng Mangir oleh kekuatan Belanda, Subakri menambahkan, juga selalu dituduh sebagai pemberontak. Taktik ini dilakukan untuk politik pecah belah dan memperlemah Ki Ageng Mangir. Begitu juga bagi generasi muda saat ini, banyak terpengaruh Ki Ageng Mangir adalah seorang pemberontak.

"Saya yakin, Mangir mampu menjadi daerah kunjungan wisata yang berbasis keindahan alam dan spiritual sejarah tertua di Kabupaten Bantul. Sejarah Mangir memang lebih tua dari Kerajaan Mataram Islam di Pleret dan Kotagede," ujarnya.

img_title Pesona Rumah Tua Tjong A Fie



Candi HKTY Ganjuran

Tak hanya warisan kerajaan Islam, umat Nasrani yang sedang merayakan libur Natal dan tahun baru akan kurang lengkap jika tidak berkunjung ke Candi Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran. Candi tersebut memang tak sebesar Candi Prambanan, Borobudur ataupun Ratu Boko yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan agama Hindu dan Buddha di tanah Jawa.

Meski ukuran panjang dan lebar Candi HKTY Ganjuran kurang dari 10 meter x 10 meter dengan ketinggian 10 meter, candi tersebut tetap memperlihatkan akulturasi antara budaya Hindu dan Jawa yang sangat kental. Bahkan, di dalam candi terdapat patung Yesus yang duduk sebagai "raja", lengkap dengan aksesori seperti raja Mataram.

Yohanna Juminem, salah satu sesepuh Gereja HKTY Ganjuran mengatakan, candi HKTY Ganjuran dibangun pada 27 Desember 1927, yang dipelopori oleh keluarga Schmutzer. Keluarga tersebut juga mendirikan Rumah Sakit St. Elisabeth Ganjuran yang hingga saat ini masih memberikan pelayanan kesehatan, bahkan sudah mempunyai peralatan modern.

"Sebelum Candi HKTY dibangun, keluarga Schmutzer juga mendirikan Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran pada 1924, yang satu kompleks dengan Candi HKTY Ganjuran," katanya.

Gereja HKTY Ganjuran dan Candi HKTY Ganjuran yang terletak 17 kilometer selatan kota Yogyakarta, tepat di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, ini, menjadi saksi keindahan, dengan Rm. Albertus Soegijapranata SJ ditahbiskan menjadi imam pada 1931. Pada 1934-1940, beliau menjadi pastor di Ganjuran. Pada 1942, beliau ditahbiskan menjadi Uskup Indonesia pertama.

"Dari Ganjuran lah peran Romo Soegijapranata SJ berjuang untuk Indonesia dilakukan hingga dianugerahi pahlawan nasional," ujar Yohanna yang juga pendamping iman anak (PIA) Gereja HKTY Ganjuran ini.

Yohanna menjelaskan, pada era kepemimpinan Pastor G Utomo PR pada 1995, keberadaan candi HKTY Ganjuran lebih menekankan pengaruh Jawanya. Pada 1990, Konferensi Federasi Uskup Asia mengadakan sebuah seminar mengenai masalah pertanian dan petani di Gereja Ganjuran.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut