- VIVA.co.id/Juna Sanbawa
![]()
Di Gua Selarong, Pangeran Diponegoro menyusun strategi perang gerilyaFOTO: VIVA.co.id/Daru Waskita
Di gua tersebut, Pangeran Diponegoro menyusun strategi perang gerilya yang akhirnya pecah Perang Diponegoro pada 1825 hingga 1830. Di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro ini, rakyat pribumi bersatu dan melakukan perlawanan secara gerilya.
Ichzan, salah satu warga Dusun Kembang Putih mengatakan, objek wisata Gua Selarong mulai ramai semenjak 10 tahun terakhir ini, setelah berbagai renovasi dan akses jalan serta tangga permanen dibuat oleh Pemkab Bantul. Di sekitar objek wisata juga terdapat tempat permainan anak, sehingga anak-anak cukup betah di objek wisata Gua Selarong ini.
"Di samping itu, di sekitar Gua Selarong sering digunakan untuk berkemah para pelajar, karena terdapat lokasi bumi perkemahan," ungkapnya.
Seperti lokasi wisata lain, di kawasan Gua Selarong juga terdapat tempat beristirahat bagi wisatawan untuk melepas lelah. Sejumlah pedagang siap menawarkan minuman sebagai pelepas dahaga.
Di beberapa ruas jalan menuju objek wisata Gua Selarong, juga banyak perajin yang sedang mengerjakan kerajinan tangan yang telah dipesan. "Jika wisatawan tertarik, bisa membeli hasil kerajinan tangan untuk oleh-oleh," tuturnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Bantul, Yogyakarta, Bambang Legowo, mengatakan, seiring adanya dana keistimewaan DIY yang ditujukan untuk pelestarian budaya serta peninggalan benda-benda bersejarah, banyak situs kuno yang kini mulai direvitalisasi dan dikembangkan menjadi suatu destinasi wisata baru termasuk menjadikan daerah tersebut sebagai desa wisata.
"Termasuk di petilasan Watu Gilang yang merupakan tempat berdirinya Keraton Mangir yang usianya lebih tua dari Kerajaan Mataram," katanya.
Dia menjelaskan, pemberian kucuran dana keistimewaan untuk revitalisasi situs-situs bersejarah harus ada tahapan pengajuan anggaran, sehingga nantinya dana yang dikucurkan tepat sasaran dan tidak menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
"Permasalahan laporan keuangan harus dapat dipertanggungjawabkan," ujar dia.
Bambang menambahkan, dengan gelontoran dana keistimewaan dalam satu tahunnya bisa mencapai belasan miliar rupiah, mampu menghidupkan kesenian tradisional yang ada di Kabupaten Bantul, termasuk menghidupkan situs-situs bersejarah yang mulai dilupakan masyarakat.