SOROT 376

Menelusuri Terowongan Bawah Tanah di Ambon

Benteng Amsterdam di Maluku Tengah
Sumber :
  • VIVA.co.id/Vander Christian Baronda

VIVA.co.id - Pulau Ambon, yang terletak di Provinsi Maluku, kini menjadi salah satu destinasi pariwisata ternama di Indonesia, dan turut menjadi tujuan wisata para pelancong dari dalam negeri maupun mancanegara.

img_title Rombongan Wapres ke Maluku akan Dikawal Kapal Perang

Walaupun peta geosrategis dalam dunia pariwisata Indonesia, Ambon belum setenar Bali, Jakarta, Raja Ampat, Papua, dan lainnya. Tetapi, fakta historis telah memposisikan Maluku, sebagai satu dari sekian wilayah di dunia yang penting dicari, karena komoditi rempah-rempahnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal ini, yang kemudian membuat di Pulau Ambon banyak ditemukan bekas peninggalan era kolonial maupun era kemerdekaan, yang dapat dijadikan referensi penting bagi generasi muda dalam mengembangkan konsep pikir yang berorientasi pada wisata sejarah.

Terowongan Bawah Tanah Benteng Amsterdam
Benteng Amsterdam terletak di Desa Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku. Benteng ini dibangun bangsa Portugis dan pada awalnya digunakan sebagai lobi tempat penyimpanan rempah-rempah (Pala dan cengkih).

img_title Gubernur Maluku: Jembatan Merah Putih Dijamin Gratis

Setelah diambil alih Belanda, gudang penyimpanan rempah-rempah itu dijadikan benteng Kongsi Dagang, atau Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie, atau VOC). Sekitar tahun 1640, Gubernur Gerard Demmer memugar bangunan ini dan berganti nama menjadi Benteng Amsterdam.

Benteng ini sudah dipugar selama dua kali. Tahun pertama, pemugaran dilakukan saat era Soeharto, pemugaran total dilakukan pada 2008. Dengan menggantikan atap yang awalnya terbuat dari tanah liat dengan multi roop.  Tebal dinding pagar benteng ini mencapai 1,5 meter, dengan ketinggian lima meter.

img_title Jembatan Terpanjang di Maluku Diklaim Tahan Gempa

Perjalanan menuju Benteng Amsterdam hanya menempuh jalur darat dari pusat kota Ambon dengan menggunakan angkutan umum maupun carteran.
Jarak dari pusat kota, yakni kurang lebih 35 kilometer dengan menggunakan jasa angkutan umum Rp12 ribu sekali pergi, dan carteran mencapai Rp300 ribu pulang pergi. Sedangkan dari Bandara Pattimura, kurang lebih 25 Km dengan mencarter mobil sewaan.

Selama menempuh jalan yang berkelok, mendaki, dan menurun, kita akan disuguhi pemandangan alam yang mempesona, dan lebih terasa makin menyapa saat lambaian pohon cengkih dan pala menari gemulai di kiri kanan jalan, ketika memasuki Kecamatan Leihitu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut