Berawal dari Kegelisahan

Roso Budiantoro dan istrinya menyiapkan nasi bungkus gratis untuk dibagikan di program Pagi yang Dahsyat (PYD). Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Sumber :
  • VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

VIVA.co.id – Suara azan Subuh baru saja selesai berkumandang. Udara masih terasa dingin menusuk tulang. Jalanan juga masih terlihat lengang. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas dengan perlahan, karena tertutup kabut yang menggelayut dan menghalangi pandangan.

Namun, pemandangan berbeda tampak di salah satu rumah yang terletak di Perumahan Permata Harmoni Ledug, Desa Ledug, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Rumah tak seberapa besar yang terletak di Blok A3 nomor 4 ini terlihat terang dan ramai.

Sepasang suami istri terlihat sibuk bekerja, memindahkan nasi dan capcai goreng ke kertas nasi. Mereka duduk bersila di atas lantai dengan karpet ala kadarnya. Di depan mereka tampak bakul berisi nasi dan baskom plastik dengan capcai goreng di dalamnya.

Di samping mereka, nasi bungkus sudah berjejer rapi. Seorang remaja tampak membantu mereka. Sesekali, canda dan tawa renyah mereka terdengar, memecah kesunyian kota.

Nama pria ini adalah Roso Budiantoro (41). Pagi itu, ia bersama istrinya, Triani sedang menyiapkan nasi bungkus gratis untuk anak yatim piatu dan dhuafa. “Sekarang sudah masuk tahun ketiga mas,” ujar Roso Budiantoro sembari tetap bekerja, saat VIVA.co.id berkunjung ke rumahnya, Selasa pagi, 15 Maret 2016.

Lihat VIDEO: Menjaring Pahala ala Zona Bombong

Ia mengatakan, setiap pagi ia dan istrinya selalu menyiapkan sekitar 100 hingga 150 nasi bungkus. Menunya beragam, mulai dari mi goreng, ayam kecap hingga capcai goreng. Yang pasti, dalam setiap menu selalu ada ayamnya.

“Kebetulan ada pedagang ayam yang selalu menyedekahkan ayamnya untuk program ini,” ujar pria yang akrab disapa Budi Butet ini.

Roso Budiantoro dan keluarga menyiapkan nasi bungkus gratis untuk dibagikan di program Pagi yang Dahsyat (PYD). Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

Selanjutnya...Pagi yang Dahsyat

Pagi yang Dahsyat
Budi menuturkan, awalnya ia adalah pengusaha katering. Namun, setiap hari selalu ada nasi yang tersisa. Ia kemudian memberikan nasi itu untuk anak yatim piatu atau dhuafa yang ia temui di jalan.

Lama kelamaan ia berpikir, mengapa ia bersedekah dengan menggunakan barang sisa. Akhirnya, ia selalu menyisihkan makanan untuk ia sedekahkan terlebih dulu sebelum berjualan.

Awalnya, ia hanya menyedekahkan nasi dalam jumlah yang tak terlalu banyak. Namun, lambat laun ia menambah jumlah nasi bungkus yang dibagikan. Bahkan, pada akhirnya semua nasi jualannya ia sedekahkan.

“Nasi ini didistribusikan untuk yatim piatu di panti asuhan atau pondok pesantren. Selain itu, tukang becak, pengemis, pemulung, tukang parkir, dan petugas kebersihan,” ujarnya.

Setiap pagi akan ada relawan yang siap membagikan nasi bungkus itu ke panti asuhan, pesantren, dan di jalanan. Para relawan itu bekerja secara bergantian. “Ada sekitar 30 sampai 50 relawan yang terlibat,” ujar ayah dua anak ini.

Distributor herbal ini menyebut, berbagi sarapan gratis itu merupakan program Pagi yang Dahsyat (PYD). Konsep PYD adalah menitip doa melalui sedekah nasi. Program ini sengaja dilakukan di pagi hari karena dimaksudkan agar anak-anak yatim piatu dan dhuafa bisa sarapan sebelum mereka melakukan aktivitas.

Tiap hari, Budi membutuhkan dana sekitar Rp600 ribu untuk membiayai program ini. Namun, tak ada donator tetap yang mengongkosi program ini. Awalnya, Budi kerap cemas dan khawatir, takut tak ada uang untuk belanja esok hari.

“Dulu saya sering berdiri di depan ATM sekitar tiga puluh menit sampai satu jam hanya untuk menunggu transferan. Saya cek saldo, kosong. Saya cek lagi masih kosong,” ujarnya mengenang.

Namun, lambat laun Budi membuang rasa cemas itu. Meski, tak jarang ia menggunakan uang pribadi atau menjual barang-barang di rumah agar PYD tetap bisa berjalan.

“Saya ingin membuktikan janji Allah, bahwa ketika kita serahkan semua kepadaNya, maka Allah akan menggantinya,” ujarnya menegaskan.

Meski demikian, bukan berarti PYD bisa melenggang tanpa hambatan. Tantangan pertama justru datang dari Triani (30), istrinya.

Menurut dia, pada tujuh bulan pertama, istrinya tak berkenan. Alasannya, pekerjaan itu tidak ada duitnya dan sering nombok. Sementara itu, keluarganya masih kekurangan.

Triani membenarkan. Awalnya dia keberatan dengan apa yang dilakukan suaminya. Tak jarang, PYD memicu pertengkaran di rumah mereka. Sebab, keluarganya masih kekurangan, tapi sok-sokan memberi makan orang.

Apalagi, suaminya sering menggunakan uang pribadi dan menjual barang-barang di rumah untuk membiayai PYD. “Anak saya sampai sering nggak bisa jajan karena nggak ada uang,” ujarnya mengenang.

Ia mengaku sempat putus asa dengan kondisi ekonomi keluarganya. Namun, setelah hampir setahun menjalani PYD, Triani merasa ada keajaiban.

Sedikit demi sedikiti, ekonomi keluarganya membaik. Semua yang ia inginkan juga tercapai. Tak hanya itu, keluarganya semakin hangat dan harmonis. “Hidup kami sekarang lebih baik setelah menjalani PYD.”

Hari beranjak siang. Jarum jam di dinding menunjuk angka setengah enam. Budi dan istrinya segera memasukkan nasi bungkus ke dalam sejumlah plastik kresek warna hitam berukuran besar.

Remaja yang sudah menunggu sejak pagi langsung menenteng satu kantong besar berisi puluhan nasi bungkus. Ia kemudian menghidupkan motornya dan berlalu, hilang dari pandangan.

Tak berselang lama, relawan yang lain datang. Pria ini melakukan hal yang sama, mengambil kantong kresek berisi puluhan nasi bungkus dan langsung ngacir dengan motornya. Relawan bernama Hendra Yulianto ini menembus jalanan yang mulai padat dengan kendaraan.

Seorang relawan membagikan nasi bungkus gratis ke tukang becak di program Pagi yang Dahsyat (PYD). Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

Sesekali, ia berhenti saat bertemu pemulung atau tukang becak di pinggir jalan. Hendra menyapa mereka sambil membagikan nasi bungkus, satu demi satu.

Miskun (50), salah seorang tukang becak yang mendapat pembagian nasi bungkus mengaku senang. Menurut dia, nasi bungkus itu sangat membantu. Sebab, seringkali ia tak sarapan karena belum mendapatkan muatan.

“Sarapan ini sangat membantu mas, minimal saya bisa menghemat uang sarapan,” ujarnya singkat.

Pendapat senada disampaikan Sodirin (52). Petugas kebersihan ini mengaku kerap menerima nasi bungkus yang dibagikan tiap pagi tersebut. “Alhamdulillah. Karena saya berangkat kerja pagi-pagi sekali sehingga belum sempat sarapan,” ujarnya dengan senyum lebar.

“Saya sudah tiga tahun jadi relawan PYD mas,” ujar Hendra usai membagikan nasi bungkus. Ia mengaku senang menjadi relawan. Dalam sepekan, ia bisa tiga kali membagikan nasi bungkus untuk sarapan tersebut.

Sekali jalan, ia biasanya membawa sekitar 60 bungkus. “Nasi itu saya bagikan ke tukang becak, pemulung, pengemis, tukang sapu, dan kaum dhuafa yang lain,” ujar pedagang burung ini.

Selanjutnya...Zona Bombong

Zona Bombong
Budi merupakan salah satu jemaah Zona Bombong, sebuah komunitas yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. PYD merupakan salah satu program komunitas yang digawangi oleh anak-anak muda ini. Budi mengaku, sebelum bergabung dan aktif di Zona Bombong, hidupnya tak karuan.

Hari-harinya diisi dengan menghibur diri, mulai dari dunia malam hingga prostitusi. Bahkan, ia pernah menjadi pecandu narkoba dan obat-obatan terlarang.

Namun, hidupnya berubah 180 derajat sejak ketemu Muhammad Abror, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda sekaligus pembina Zona Bombong. Budi mengaku, sejak berinteraksi dan bergabung dengan Zona Bombong, ia bisa lebih nyaman menjalani hidup. Ekonomi keluarganya pun membaik, juga kehidupan agama dan spiritualnya.

“PYD adalah salah satu program Zona Bombong,” ujar Ketua Zona Bombong, Andien Fardin (36) kepada VIVA.co.id, Selasa, 15 Maret 2016. Salah satu pendiri Zona Bombong ini mengatakan, Budi tak sendiri.

Menurut dia, sebagian besar orang yang menjadi anggota atau jamaah Zona Bombong adalah orang-orang yang sebelumnya pernah terjerembap ke dalam “lubang hitam” atau mengalami masalah. “Mulai dari dunia malam hingga menjalankan bisnis yang tak sesuai aturan dan merugikan,” ujarnya menambahkan.

Pengusaha restoran ini menuturkan, Zona Bombong berdiri sejak November 2012. Selain dia, ada tiga nama lain yang ikut mendirikan komunitas ini.

Ketua Zona Bombong, Andien Fardin. Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

Mereka adalah Heri Kristianto, Uung Ferry, dan Vembry Dwi Widiyanto. Menurut dia, komunitas ini lahir dari interaksi mereka dengan Muhammad Abror dan Pondok Pesantren Nurul Huda.

“Berawal dari Ponpes Nurul Huda dengan bimbingan Gus Abror,” ujar mantan area manager salah satu perusahaan asuransi nasional ini.

Komentar senada disampaikan Heri Kristianto (33). Salah satu pendiri Zona Bombong ini mengatakan, Gus Abror dan Ponpes Nurul Huda menjadi awal lahirnya komunitas ini. Awalnya, ia dan sejumlah temannya yang gelisah dengan kehidupan, datang ke pondok untuk diskusi, curhat atau sekadar numpang tidur dan istirahat.

Namun, lama kelamaan terjadi diskusi yang intens antara mereka dan Gus Abror. Hasilnya, mereka bersepakat mendirikan dan membentuk sebuah komunitas yang diharapkan bisa membuat anggotanya selalu merasa lega dan bahagia.

“Ponpes Nurul Huda merupakan inspirasi luar biasa yang Gus Abror tunjukkan ke kami,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 17 Maret 2016.

Menurut dia, Gus Abror merupakan tokoh kunci terkait lahirnya Zona Bombong. Sebab, pengasuh Ponpes Nurul Huda ini mampu menggeser cara pandang mereka terkait kebahagiaan dan bagaimana menyikapi persoalan hidup. “Gus Abror merupakan guru, sahabat, teman dan saudara bagi Zona Bombong.”  

Gus Abror (41) tak menampik. Dia memang terlibat dalam proses kelahiran Zona Bombong. Bahkan, ia mengakui, nama Zona Bombong ia yang memberikan. Kyai Nyentrik ini menuturkan, awalnya ada wartawan media lokal yang datang ke Nurul Huda tanpa sepengetahuan dia.

Setelah itu berita tentang ponpes yang didedikasikan untuk anak-anak yatim piatu dan dhuafa itu muncul di media massa. Tak berselang lama, ada beberapa orang yang menyambangi pondoknya.

“Pertama Mas Budi (Roso Budiarso). Kemudian Budi ngajak Mas Heri. Setelah itu Mas Heri ngajak temen-temennya yang lain,” ujarnya saat VIVA.co.id menyambangi kediamannya di Cilongok, Purwokerto, Kamis, 17 Maret 2016.

Bapak empat anak ini menambahkan, Zona Bombong lahir melalui interaksi dan diskusi yang intens dan panjang. “Kenapa komunitas itu kami namai sebagai Zona Bombong, karena di sini lah kami ingin menjadi orang yang bahagia. Kebahagiaan yang hakiki, yang tidak tergantung materi dan jabatan. Nama Zona Bombong berangkat dari sana. Ketika mereka bertanya apa namanya, saya bilang Zona Bombong saja.”

Muhammad Abror atau Gus Abror, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda. Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

Selanjutnya...Komunitas Membesar

Membesar
Awalnya, Zona Bombong hanya digawangi beberapa orang. Namun, seiring berjalannya waktu, komunitas ini terus berkembang dan membesar. Saat ini jemaahnya sudah mencapai seratusan lebih. “Jemaahnya beragam, mulai dari anggota DPR, kepala bank, kepala diler, tukang mi ayam hingga tukang tambal ban,” ujar Andien.

Bapak dua anak ini menjelaskan, selain berbagi sarapan gratis, komunitasnya juga memiliki sejumlah program lain seperti wakaf Alquran dan perlengkapan salat, ambulans gratis, bedah rumah, meminjamkan inkubator gratis, dan sedekah barang bekas.

Selain itu, mereka melakukan aktivitas lain yang dimaksudkan untuk menguatkan keagamaan dan spiritualitas. Program itu di antaranya, Majelis Dhuha, Majelis Waqiah, dan Muhasabah. “Jika manusia diibaratkan ponsel yang lowbat, muhasabah ini buat ngecas jemaah Zona Bombong,” ujar salah satu pendiri rumah makan Sambel Layah ini.

PYD merupakan aktivitas sosial Zona Bombong kedua setelah wakaf Alquran dan perlengkapan salat. Sementara itu, program terbaru adalah Si Bulan dan Debabe. Si Bulan adalah kepanjangan dari Siaga Ambulans yang merupakan program layanan ambulans gratis untuk masyarakat.

Sementara itu, Debabe adalah kepanjangan dari Sedekah Barang Bekas. Selain itu, ada program peminjaman inkubator gratis.  

Relawan program Inkubator Gratis Zona Bombong, Julius Setya Kesuma (30) mengatakan, setiap tahun ada dua juta bayi yang lahir secara prematur. Selain itu, angka kematian bayi di Indonesia terbilang masih tinggi.

Berangkat dari kondisi itu, Zona Bombong membuat program peminjaman inkubator gratis. “Program ini menyasar keluarga kurang mampu yang anaknya lahir prematur dan membutuhkan inkubator," ujarnya di rumah Lasim, salah satu warga yang meminjam inkubator di Desa Kasegeran Rata, Kecamatan Cilongok, Purwokerto, Selasa, 15 Maret 2016.

Area Bussines Leader Bank BTPN Purwokerto ini mengatakan, inkubator itu bisa digunakan siapa saja tanpa mengenal SARA. Warga tinggal menghubungi dia atau lewat SMS center yang sudah disiapkan.

Meski demikian, ia akan mempertimbangkan beberapa hal saat akan meminjamkan inkubator, yakni terkait lokasi, kondisi bayi, dan kondisi ekonomi calon peminjam. ”Prioritas untuk warga miskin.”
      
Meski melakukan berbagai aktivitas sosial, Zona Bombong tak pernah menerima bantuan dana dari pemerintah. Mereka juga tak pernah meminta. Selain mengumpulkan dana secara swadaya, mereka menerima bantuan dari donator yang tak mengikat.

Sepasang bayi tertidur di dalam inkubator gratis yang dikelola oleh komunitas Zona Bombong. Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

“Kami menggunakan Manajemen Langit. Allah Maha Kaya. Alhamdulillah dana selalu ada saja. Kalau kami butuh, ada,” ujar Andien saat ditanya soal dana untuk membiayai aktivitas Zona Bombong.

Andien mengatakan, hingga saat ini sebagian besar pendanaan masih ditanggung oleh komunitas secara swadaya. Sementara itu, sisanya merupakan sumbangan dari donator. Pendapat senada disampaikan Heri.

Menurut pengusaha desain interior ini, Zona Bombong memang menyampaikan informasi kepada publik terkait aktivitas sosial mereka. Namun, komunitasnya tak pernah meminta sumbangan atau bantuan, baik dari pemerintah maupun masyarakat.

“Boleh menginformasikan, boleh mengajak tapi jangan pernah meminta,” ujarnya menambahkan.

Meski demikian, hingga saat ini selalu ada jalan. Heri mengatakan, selalu ada orang yang bersedia membantu tiap kali mereka ingin berbagi.

Hari mulai beranjak malam. Heri pun beranjak. Ia menuju salah satu masjid di pinggiran kota. Di sana telah menunggu sekitar seratus orang yang sudah duduk bersila dan membentuk barisan di dalam masjid. Ia langsung berwudu dan segera bergabung dengan jemaah yang lain. Malam itu, jemaah Zona Bombong akan melakukan Muhasabah.

Mereka kemudian berdiri dan melakukan Salat Taubat dan Salat Hajat dilanjut dengan zikir. Tak berselang lama, lampu masjid dimatikan. Setelah itu, hanya terdengar orang yang menangis sesenggukan, bercampur suara istigfar yang menggema di langit-langit masjid, memecah kesunyian malam.