Mereka Mengacak-acak Celah Keamanan

Seseorang mengakses internet di dalam mobil di Havana, Cuba.
Sumber :
  • REUTERS/Alexandre Meneghini

Bagi FBI, mereka tak sabar untuk segera melacak gerakan Bogachev dan membekuknya begitu dia berada di luar Rusia. Selain botnet GameOver Zeus, Bogachev juga menciptakan Cryptolocker, malware lain yang mampu menyandera dan memalak korbannya. 

Malware ini menyandera komputer korban dengan mengenkripsi data di komputer, selanjutnya korban dimintai sejumlah uang tebusan agar data yang disandera bisa diserahkan kembali ke korbannya. Malware pemalak ini sudah menyebar ke seluruh dunia, tercatat lebih dari sejuta komputer di dunia telah disandera virus tersebut.

FBI dan peneliti keamanan tak ragu melabelinya dengan keahlian program buatan geng peretas Business Club itu. Sepanjang jejak, selama ini, geng kriminal itu mulus menginfeksi jaringan komputer yang terus berkembang. 

Geng itu mampu menerobos langkah keamanan perbankan yang paling canggih sekalipun, dan memaksa perbankan mengeluarkan rekening kosong. Selanjutnya, mentransfer uangnya ke luar negeri melalui jaringan perantara.

Pejabat FBI mengakui skema pencurian online itu adalah yang tercanggih sepanjang yang dihadapi badan AS itu. Dan selama bertahun-tahun, skema geng Business itu tak dapat ditembus. 

Kemampuannya dalam kejahatan komputer di seluruh dunia, termasuk menyerang perangkat di AS itu terendus oleh pemerintah Rusia. Desus yang berkembang, Rusia memanfaatkan keahlian dan kelihaian Bogachev untuk menembus serta mengacak-acak infrastruktur penting, mengacaukan operasi bank, mencuri rahasia pemerintah, dan merongrong pemilu Negeri Paman Sam. 

Situasi terakhir ini yang melandasi mantan Presiden Barack Obama pada penghujung 2016 itu untuk menjatuhkan sanksi kepada sejumlah entitas Rusia. Obama merasa Rusia sudah keterlaluan dalam mengganggu pesta demokrasi AS. Rusia melalui tangan Bogachev dituding ingin merongrong pemilihan demokratis dan pemimpin AS. 

Meski bukti sahih yang menunjukkan keterlibatan Bogachev meretas Pemilu AS itu tak terpublikasi, tapi asisten agen khusus investigasi siber FBI, Austin Berglas yakin hacker plontos itu adalah aset pemerintah Rusia. 

Data Kementerian Dalam Negeri Ukraina yang membantu FBI melacak Bogachev menunjukkan, pria berusia kepala tiga itu bekerja di bawah pengawasan unit khusus Federal Security Service, badan intelijen utama Rusia.