Mereka Mengacak-acak Celah Keamanan
- REUTERS/Alexandre Meneghini
Di sana dia hidup di apartemen besar dekat pantai dan kadang berkelana ke Laut Hitam dengan kapal mewahnya. Sesekali dia juga naik kapal ke Krimea, area di semenanjung Ukrania yang diduduki Rusia pada 2014.
New York Times menuliskan, Bogachev hidup dengan bergelimang harta layaknya James Bond dalam novel karangan Ian Fleming. Dia memiliki deretan mobil mewah di berbagai lokasi di Benua Biru, sehingga akan mudah saat berlibur. Kadang dia mengendarai mobil favoritnya, Jeep Grand Cherokee.
Bogachev juga punya dua vila di Prancis. Untuk memuluskan saat bepergian, Bogachev memiliki tiga paspor dengan berbagai nama berbeda atau alias.
Menjadi 'raja' dalam penipuan online, Bogachev nyatanya cenderung lelah dan kesepian dalam kehidupan pribadinya. Hacker Rusia yang mendekam di penjara AS karena penipuan bank, Aleksandr Panin mengungkapkan, Bogachev sering mengeluhkan sedikit waktu untuk keluarganya.
"Dia menyebutkan seorang istri dan dua anak sejauh yang saya ingat," ujar Panin yang biasa berkomunikasi online dengan Bogachev.
Satu-satunya ‘cacat’ hidup Bogachev yakni tersangkut masalah hukum di Rusia pada 2011. Namun, bukan soal urusan peretasan tapi terkait dengan pembayaran apartemen di Anapa senilai US$75 ribu.
Pengadilan setempat memutuskannya bersalah. Bogachev kalah dari perusahaan real estate, tempat yang selama ini ia tinggali.
Selanjutnya, Ratu Hacker dan Penjaga Google
Ratu Hacker dan Penjaga Google
Kisah lain hacker tertuju pada perempuan keturunan Iran-Amerika Serikat. Usianya masih belum genap 32 tahun, tapi perempuan ini menjadi bagian penting bagi Google.
Dia adalah magnet di antara 250 insinyur keamanan Google. Dia juga senjata utama perusahaan internet raksasa itu dalam melawan serangan hacker dari luar Google.
Setiap hari dia memimpin 30 pakar keamanan di AS dan Eropa melawan upaya serangan yang dilancarkan peretas ke Google. Dia dibayar Google untuk bekerja dengan pikiran sebagai penjahat.
Tiap hari sosok kaum hawa ini menyerang Google, tujuannya untuk memastikan sistem browser Google aman dari celah keamanan yang bisa dipakai peretas dari luar.
Dia adalah Parisa Tabriz, yang dijuluki 'security princess' di Google. Selain memimpin pasukan hacker di Google, Tabriz juga menjadi bos Chrome Google.