Mereka Mengacak-acak Celah Keamanan
- REUTERS/Alexandre Meneghini
Tabriz belajar bagaimana masuk dan keluar skrip lintas situs dan teknik pemalsuan permintaan lintas situs, sebuah upaya yang pada hari ini merupakan cara mendasar menyerang sebuah situs web.
Dunia peretasan itu kemudian menarik keturunan Iran itu untuk mengasah kemampuannya dan berbagi dengan orang yang lebih terampil dari dirinya. Tabriz kemudian mencari nafkah sebagai hacker independen dalam beberapa kontes yang disponsori oleh perusahaan.
Pada suatu hari, sebelum lulus, Tabriz kemudian mengikuti magang musim panas di tim keamanan Google. Proses magang ini menjadi pintu bagi Tabriz untuk bergabung dengan Google.
Setelah lulus 2007, Tabriz langsung bekerja di Google, dan kemudian mendapat kepercayaan menjadi ‘ratu hacker’ di perusahaan internet raksasa itu. Memimpin 30 peretas di AS dan Eropa tiap harinya untuk menjaga Chrome Google.
Soal kenapa Tabriz dengan mudah mendapat kepercayaan Google, diyakini karena kepemimpinannya. Mentor Tabriz di pascasarjana University of Illinois, Nikita Borisov mengakui, anak didiknya itu profil yang bagus.
Tabriz memerintah bawahan tapi tak mengintimidasi, tipe orang yang bicara dengan tenang tapi tegas dalam situasi darurat sekalipun. Meski menyandang menjadi ‘ratu hacker’ Google, Tabriz selalu mudah terhubung dengan orang lain.
"Sangat termotivasi dan terdorong (orangnya)" ujar Borisov kepada Elle.
Sebagai ‘ratu hacker’ di Google, dia memilih untuk bekerja sunyi di tengah riuhnya kejahatan siber yang makin canggih di dunia internet.
Tabriz mengaku bangga bekerja diam sehari-hari untuk memperbaiki celah keamanan di Google. Ujian datang pada 2011, tim ‘Sang Ratu’ itu menemukan otoritas sertifikat keamanan internet Belanda, DigiNotar telah diretas.
Dampaknya memengaruhi ratusan ribu pengguna Gmail Iran. Tim ‘Sang Ratu’ kemudian turun untuk menambal problem tersebut. Sebagai penjaga Google, Tabriz mengaku hanya menyaksikan fenomena munculnya kelompok peretas yang menamakan diri Anonymous, untuk menyuarakan kebebasan internet.
Sebagai penjaga keamanan, dia merasa prihatin, jika ada peretas yang sukses membobol sistem mereka. Tabriz menunjuk pada kasus kelompok peretas anonim, Guy Fawkes yang melumpuhkan PayPal pada 2010 sebagai balasan atas penangguhan situs Wikileaks.