Survei: Banyak Orang ke Pameran Otomotif Bukan Beli Mobil

SPG Jeep
Sumber :
  • ade alfath/VIVA.co.id

VIVA.co.id – Pameran otomotif dianggap kerap dijadikan sejumlah orang untuk berburu mobil baru. Padahal tak demikian juga. Berdasarkan survei internal yang dilakukan oleh Amara Pameran Indonesia (API), alasan utama masyarakat mengunjungi pameran otomotif ternyata adalah sekadar jalan-jalan mencuci mata.

Hal itu disampaikan Andy Wismarsyah, Presiden Direktur API Events Holding Company dari One Events. Kata dia, jawaban jalan-jalan menjadi yang terbanyak, kedua yakni melihat-lihat mobil baru.

"Hasil survei menyebut, yang pertama itu jalan-jalan, kedua lihat mobil baru, ketiga beli mobil, keempat tamasya," kata dia di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa malam, 9 Mei 2017.

Meski demikian, tentu data ini tetap perlu diapresiasi. Sebab pameran otomotif tak perlu dipandang melulu sebagai ajang jualan para agen pemegang merek (APM). Unsur penting diadakannya pameran, kata dia, yakni dapat dijadikan ajang bagi para APM untuk pamer teknologi, memperkenalkan produk anyar mereka kepada publik, hingga berkontribusi positif pada iklim industri otomotif di mata internasional.

"Makanya kadang saya sedih jika ada pameran yang berhenti. Kenapa harus berhenti, semestinya tetap dilanjutkan meski dengan skala yang lebih kecil. Paling tidak ini juga penting untuk konsistensi dan menjadi perhatian para investor. Nah, kalau tidak ada pameran otomotif, mereka tentu ragu untuk berinvestasi ke Indonesia, diambil kesimpulan jelek," kata dia.

Sementara itu, Staf Ahli Gaikindo, Freddy Sutrisno, mengatakan, pameran otomotif memang mesti terus diadakan dan bertumbuh. Tetapi tak melulu membahas proses jual-beli, alias tidak menomorsatukan sales. Maka itu, booth-booth APM kini banyak yang diperbagus, serta ditunjang dengan berbagai aktivitas menarik lainnya. Masyarakat juga memiliki kesempatan luas untuk bertanya banyak hal seputar otomotif.

Dia juga menyebut, industri otomotif yang kini menjadi salah satu sektor unggulan di Kementerian Perindustrian wajib terus didorong, karena banyak “nyawa” yang bergantung dari sektor itu.

"Data menyebut, ada 21 juta pekerja bergantung atau beririsan pada industri otomotif. Angka itu mulai dari mekanik, komponen pegawai, SPG (sales promotion girl), tukang bikin spanduk pameran, hingga tukang tambal ban pinggir jalan," kata dia. (one)