Kesiapan Guru Menerapkan Kurikulum Merdeka

Ika Yunita salah seorang Guru Penggerak dalam menerapkan Kurikulum Merdeka
Sumber :
  • vstory

VIVA – Setiap perubahan selalu membawa konsekuensi terhadap sasaran dan setiap individu yang ada di dalamnya. Karena itu setiap individu perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan yang sedang atau yang akan terjadi.

Seperti halnya dalam perubahan kurikulum saat ini. Kurikulum Merdeka merupakan suatu pembaharuan pada masa sekarang yang dilatarbelakangi oleh teknologi yang semakin maju dan penggunaannya dituntut pada masa pandemi Covid – 19.

Hal ini menuntut dari berbagai elemen pendidikan untuk dapat beradaptasi dengan hal tersebut, hingga melahirkan Kurikulum Baru yaitu Kurikulum Merdeka. Pada penerapan kurikulum Merdeka terdapat banyak komponen kesiapan bagi guru agar dikatakan siap untuk melaksanakan kurikulum merdeka.

Pada saat  ini masih banyak guru yang bingung untuk menerapkan kurikulum merdeka, senantiasanya guru perlu mengetahui apa saja kesiapan yang dibutuhkan pada saat menerapkan Kurikulum Merdeka  pada proses pembelajaran di sekolah sampai ke bentuk atau instrumen penilaiannya.

Dalam kaitannya dengan merdeka belajar, kesiapan seorang guru harus komprehensif dan integral sesuai dengan kompetensi yang dimiliki seorang guru, kompetensi yang dimaksud meliputi empat kompetensi yakni pertama, Kompetensi Pedagogik, dimana guru harus menguasai teori dan prinsip pembelajaran dan mampu mengembangkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif serta relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Kurikulum Merdeka identik dengan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik, oleh karena itu Pembelajaran Berdiferensiasi dianggap paling sesuai untuk diimplementasikan pada Kurikulum Merdeka. Pembelajaran Berdiferensiasi mampu mengakomodir semua kebutuhan belajar peserta didik, sehingga mereka memiliki keleluasan untuk meningkatkan potensi yang ada pada diri mereka sesuai dengan kesiapan belajar, minat belajar, maupun profil belajarnya.

Kedua, Kompentensi Kepribadian di mana guru dapat menjadi contoh teladan yang mampu ditiru dan diguguh oleh peserta didik dan kehadirannya mampu memberi dampak yang positif di manapun ia berada. Seorang guru harus memiliki akhlak yang mulia, berwibawa, arif dan bijaksana, mampu mengevaluasi kinerjanya, serta mengembangkan diri secara berkelanjutan.

Ketiga, Kompetensi Sosial. Guru mampu berkomunikasi dengan baik dan efektif, baik terhadap peserta didik, sesama rekan sejawat, wali murid maupun masyarakat. Guru harus menyadari bahwa dirinya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, sehingga harus mampu mengembangkan tugas sebagai anggota masyarakat dan warga negara.

Keempat, Kompetensi Profesional. Guru mampu menguasai materi pelajaran yang diampu serta mampu menghayati profesinya dan menaati semua kode etik sebagai seorang guru demi pengembangan diri dan kinerja yang lebih baik.

Keempat kompetensi tersebut harus mampu diasah secara optimal sebagai upaya memerdekakan diri terlebih dahulu maka siswa pun akan merasa tidak terbebani atau merasa merdeka karena gurunya mampu memahaminya.

Guru harus menjadi dinamisator atau penggerak sebagai ujung tombak demi perubahan dan kemajuan merdeka mengajar dan belajar di era industri 4.0 di mana teknologi dan informasi berkembang sangat cepat. Oleh karena itu, guru tidak boleh menjadi lelet di abad yang modern ini.

Karena jika sistem pendidikan yang dibuat mencerminkan kemerdekaan dalam belajar, sarana dan prasarana sudah tersedia dan setiap elemen-elemen sudah siap untuk menunjang proses pembelajaran tetapi jika aktor atau eksekutornya tidak bekerja dengan baik dan profesional maka akan terjadi ketimpangan dan jauh dari apa yang diharapkan. Oleh karena itu guru harus merdeka secara emosional, pemikiran, finansial, tekanan, dan hal lain yang membebani.

Seorang guru harus mampu meningkatkan dan mengasah berbagai kompetensinya melalui strategi pembelajaran yang memerdekakan peserta didik, mengarahkan aktivitas belajar peserta didik agar dapat berpikir secara kritis, mampu menggunakan teknologi secara kreatif dan inovatif, serta memberi stimulus agar peserta didik mampu memecahkan masalah. (Penulis: Ika Yunita, S.Si.Gr., Guru Matematika SMAN 1 Taman Sidoarjo)

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.