Selamat Menerapkan Kurikulum Merdeka

Sumber : DW
Sumber :
  • vstory

VIVA – Tahun ajaran baru Juli 2022 ini, akan ada 63 ribu sekolah yang akan menerapkan kurikulum Merdeka. Jumlah ini di luar jumlah sekolah-sekolah penggerak yang sudah menerapkan setahun sebelumnya.

Kesiapan Guru Menerapkan Kurikulum Merdeka

Kurikulum ini adalah kurikulum modern yang bersinergi dan membutuhkan kompetensi guru yang inovatif, kepala sekolah yang pro aktif dan sarana prasarana yang lengkap dan tentu saja yang paling penting jumlah guru yang memadai.

Seperti juga kurikulum-kurikulum baru, semua pihak masih menyesuaikan diri dan mencari informasi yang benar dan tepat tentang kurikulum Merdeka ini. Pihak Kemendikbudristek sudah menyiapkan banyak fasilitas termasuk juga aplikasi Merdeka Mengajar yang bisa diakses oleh guru dan ribuan materi yang beredar di media yang bisa dpelajari secara mandiri dan otodidak.

Menghidupkan Lentera Pendidikan Melalui Kurikulum Merdeka

Kemendikbudristek tidak memaksakan sekolah untuk memakai kurikulum ini, namun disesuaikan dengan kemampuan sekolah sehingga bagi sekolah yang menerapkan diberikan tiga opsi dalam implementasinya yaitu:  Pilihan Mandiri Belajar di mana memberikan kebebasan kepada satuan pendidikan saat menerapkan Kurikulum Merdeka beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

Yang kedua Mandiri berubah, memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan saat menerapkan Kurikulum Merdeka dengan menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan yang terakhir yaitu mandiri berbagi, Pilihan mandiri berbagi akan memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan dalam menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

Implementasi Kurikulum Merdeka Itu Untuk Siapa?

Tiga model di atas, diharapkan secara fleksibel dapat membuat sekolah nyaman dalam penerapan kurikulum Merdeka ini. Kurikulum Merdeka secara teori nampak begitu menjanjikan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak lagi mengekang guru dan siswa. Konon kabarnya guru-guru tidak lagi pusing dengan administrasi dalam pelajaran seperti K13. 

Konon kabarnya demikian adanya di kalangan orang-orang awam yang tidak betul-betul mendalami kurikulum ini dan hanya mencopy paste peryataan-peryataan euforia yang banyak berseliweran di media-media. Mari kita menelisik bagaimana struktur kurikulum Merdeka ini sesungguhnya. Apakah memang guru merdeka dari administrasi? Justru guru dibebani administrasi yang tidak sedikit.

Kalau dulu guru-guru bisa mencopy paste RPP dari mana-mana, saat ini, di kurikulum Merdeka tidak lagi bisa memakai cara-cara guru di dunia ketiga tersebut. Guru harus membuat modul pelajaran dengan serius dikarenakan dalam struktur modul ada capaian pembelajaran, alur pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran.

Model guru copy paste sudah harus ditinggalkan. Guru juga  masih  harus memetakan kemampuan siswa, guru harus energik, rajin, pandai dan tentu saja mempunyai banyak ide dalam mengajar siswa yang kompetensinya beda-beda. Belum lagi ada projek profil pelajar pancasila 30 persen  yang menuntut koloborasi antar mata pelajaran. 

Namun, bukankah itu yang harus dilakukan oleh guru abad 21? Selama ini  K13 harus diganti, karena dianggap tidak berhasil dan hanya membuat guru-guru merasa ribet dengan urusan administrasi bukan? Padahal yang dibuat juga hanya RPP itupun tidak banyak menuntut seperti di kurikulum Merdeka yang harus membuat modul yang berisi CP, ATP, AP, pada K13 hanya ada kompetensi inti dan kompetensi dasar.

Walaupun demikian secara keseluruhan kurikulum Merdeka memang sangat baik untuk memodifikasi wajah bopeng pendidikan kita jika guru-guru dan juga sekolah mau bersinergi dan mengubah mindset dalam pelaksanaan kurikulum ini. Tentu saja pemerintah perlu menyediakan akses internet dan juga fasilitas yang memadai untuk tiap sekolah.

Mau bicara teori apapun, bahwa kurikulum ini sederhana, bisa dipakai di sekolah di seluruh NKRI, segala testimoni bahwa kurikulum ini sederhana, tidak akan mampu menutupi fakta bahwa kurikulum ini membutuhkan jumlah guru yang memadai, kepala  sekolah unggul dan juga sekolah yang fasilitasnya lengkap.

Jika tiga hal itu tidak terpenuhi maka sesungguhnya kita hanya akan menampilkan wajah kebingungan dalam pelaksanaan kurikulum ini sehingga persepsi bahwa kurikulum ini  hanya cocok diterapkan di sekolah-sekolah penggerak benar adanya. 

Selamat menerapkan kurikulum Merdeka guru-guru hebat Indonesia, jadilah guru abad 21 tinggalkan model K13 yang santai dan apa adanya. kurikulum Merdeka adalah adopsi model dan tersinspirasi dari kurikulum negara-negara maju, tidak ada jalan lain bagi guru-guru Indonesia agar kurikulum ini berhasil maka mereka harus  mengubah mindset dan persepsi seperti guru-guru di negara-negara maju. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.