- VIVA/Ikhwan Yanuar
Saya kembali menyikapi. Mungkin bisa dicek di Twitter saya. Setelah saya kembali ke Bekasi. Salah satu yang pertama positive campaign. Itu pesan saya yang lain adalah kontelasi demokrasi baik pilkada maupun pilpres dan pileg itu harus dimaknai sebagai kompetisi kebaikan. Fastabiqul khairat. Kita ingin menang dalam rangka apa? Dalam rangka merealisasikan niat baik untuk kepentingan masyarakat. Tidak boleh sedikit pun itu dimaknai sebagai permusuhan. Apalagi perpecahan di rumah hanya dengan beda pilihan. Ini kita rugi besar. Hanya menentukan pemimpin, kemudian kita berseteru dengan saudara kandung, ayah dan anak, kita dengan tetangga. Begitu selesai Pilkada kita semua kembali bersaudara. Ini fastabiqul khairat.
Anda mewakili PKS menilai kinerja Jokowi?
Kalau kami menilai harapan yang dititipkan Jokowi pada 2014 oleh para pemilihnya yang menitip ke beliau banyak hal yang tidak dilaksanakan. Saya beberapa kali memberi cacatan. Ada tiga poin terpenting. Pertama, masalah penegakan kedaulatan ekonomi. Kemudian, kedua terkait dengan pembangunan demokrasi yang lebih substantif, baik itu pada sisi politik ataupun penegakkan hukumnya ini masih sangat jauh. Dan, yang ketiga, pengelolaan kemajemukan. Indonesia ini sangat majemuk sehingga perlu pengelolaan yang lebih baik. Saya katakan, ada seorang diplomat yang datang kepada saya. Dia sudah berasa di sini sejak zaman Pak SBY, dan dia mengamati para presiden selama ini. Dia katakan Pak Jokowi ini paling lemah, paling tidak pandai dalam mengelola kemajemukan yang ada. Saya kira tiga catatan ini yang harus diperbaiki. Kita membutuhkan pemimpin yang bisa menambal hal tersebut. Yang bisa menegaskan kedaulatan ekonomi dengan baik, membangun demokrasi substantif, dan ketika mengelola kemajemukan di Indonesia menjadi sebuah kekuatan.
Dari sisi prestasi era Jokowi?
Ya ada, meski kita berseberangan dengan pemerintah tapi enggak ada prestasi. Tapi, parsial ya seperti pembangunan insfrastruktur. Namun, kami juga dengan menyertakan catatan ini ternyata mengorbankan aspek lain terutama masalah sustainability fiscal. Fiskal ini sangat mengkhawatirkan, tidak sustainability. Jadi, berbahaya. Makanya investasi infrastruktur ini Saya sebut dengan catatan seperti itu.