Kesan Nicholas Saputra Bintangi Film Perlindungan Gajah

Nicholas Saputra
Sumber :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin

VIVA.co.id – Aktor muda dan berbakat Nicholas Saputra, bersama Delegasi Uni Eropa menggarap sebuah film dokumenter berjudul Save Our Forest Giants, yang menceritakan ekosistem dan habitat gajah di Unit Tanggap Konservasi Tangkahan, Sumatera Utara.

Ternyata, Ini Kebiasaan Nicholas Saputra di Pagi Hari

Nicholas mengaku, ia pertama kali mengunjungi Tangkahan 10 tahun yang lalu, atau tepatnya sekitar tahun 2006.

"10 tahun yang lalu merupakan pertama kalinya saya berkunjung ke Tangkahan, berkeliling wilayah Leuser dan melihat gajah. Tidak berhenti di situ saja, saya juga hampir setiap tahun bekunjung ke sana," kata Nicholas dalam peluncuran film dokumenter Save Our Forest Giants di Jakarta, Minggu, 19 Juni 2016.

Isyana Sarasvati Ngefans Berat Nicholas Saputra: Natap Aja Tegang

Karena kecintaannya terhadap mamalia besar itu bahkan membuatnya bisa mengunjungi Tangkahan sebanyak 2-3 kali dalam setahun. Ia menyebut Tangkahan sebagai tempat yang sangat penting dan menarik, di mana ia bisa melihat kehidupan alam secara langsung.

Dalam film dokumenter pendek tersebut, diceritakan bagaimana populasi gajah semakin berkurang, wilayah habitatnya yang kini semakin menyempit, dan serangan penyakit atau virus yang sewaktu-waku mengancam nyawa hewan mamalia itu.

Punya Reputasi Jempolan, Pendapatan Nicholas Saputra Bikin Penasaran

Nicholas mengatakan, film ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong penelitian tentang virus herpes baru, EEHV, yang diduga menyebabkan tingkat kematian tinggi pada gajah muda. Ia juga menyebutkan kekhwatirannya atas ulah oknum tertentu yang mengincar gading gajah untuk diperjualbelikan dengan harga tinggi.

Nicholas kemudian menceritakan bagaimana ia ke sana dan melihat banyak pelaku illegal loging (penebangan kayu ilegal), dan orang yang memanfaatkan hutan dan hewan untuk mencari keuntungan pribadi.

Namun seiring berjalannya waktu, Tangkahan kini menjadi tempat wisata eco-tourism, di mana mereka yang sebelumnya memanfaatkan hutan untuk kegiatan ilegal, kini beraih menjadi tour guide atau pemandu wisata.

"Saya melihat perubahan yang ada di Tangkahan juga bisa menjadi contoh bagi tempat lain di Indonesia. Saat ini terutama pada saat hari libur, sekitar 10.000 orang yang datang berkunjung ke Tangkahan dan melihat kehidupan alam di sana. Ini bisa menjadi potensi yang sangat baik dan patut untuk didukung," katanya.

Selama 20 tahun terakhir, Uni Eropa telah mendukung pemerintah Indonesia melindungi kawasan hutan di Aceh dan Sumatera Utara melalui sejumlah proyek bernilai total lebih dari 50 juta euro. Uni Eropa juga sangat menghargai dan mementingkan inisiatif pemerintah lokal dan global, untuk melawan dampak perubahan iklim dan perlindungan keanekaragaman hayati.

 

Gajah liar berusia 30 tahun di Aceh mati akibat infeksi.

Gajah Betina Liar di Aceh Besar Mati karena Luka Infeksi di Perut

Gajar betina itu sempat dapat perawatan selama tiga hari. Gajah itu diberikan cairan infus hingga antibiotik.

img_title
VIVA.co.id
1 Maret 2022