Collateral Beauty: Tentang Cinta, Maut, dan Waktu
- New Line Cinema
VIVA.co.id – Setelah industri perfilman dunia diisi oleh ragam genre laga serta fantasi di tahun 2016, kini giliran drama elegi yang unjuk gigi. Salah satu film besutan Warner Bros. Pictures berjudul Collateral Beauty menjadi penutup manis di penghujung tahun ini.
Kisah dimulai oleh Howard (Will Smith), seorang bos agensi terkenal yang karismatik, andal, dan berjiwa kepemimpinan tinggi. Bersama ketiga rekannya, Whit (Edward Norton), Claire (Kate Winslet), dan Simon (Michael Pena), mereka menguasai ranah periklanan di Amerika Serikat.
Tiga tahun berselang, popularitas itu harus meredup pelan-pelan. Pascakematian anaknya, Olivia (Alyssa Cheatham) Howard perlahan mulai melesu. Kesuksesan agensinya perlahan sirna dan itu menjadi ancaman buruk buat ketiga rekan serta awak kantornya.
Howard pernah membayangkan tentang sosok Death (kematian), Time (waktu), dan Love (Cinta) yang selalu bersama mengiringi jalannya kehidupan manusia. Larut dalam stres akibat ditinggal anak semata wayangnya, Howard mengirimkan surat pada tiga sosok tersebut, meski ia sendiri tahu takkan mungkin dibalas.
Ketiga rekannya tahu akan tindak-tanduk aneh tersebut. Demi mengatasi amblasnya mahligai perusahaan, maka Whit, Claire, dan Simon menyewa jasa tiga pemain teater lokal untuk berperan sebagai tiga karakter tersebut: Brigitte - Death (Helen Mirren), Raffi - Time (Jacob Latimore), dan Amy - Love (Keira Knightley).
Kehadiran tiga sosok tersebut, sontak membuat Howard bingung dan berkontemplasi atas kekacauan yang menerpa hidupnya. Hal tersebut ditambah oleh pertemuannya dengan sosok perempuan bernama Madeleine (Naomie Harris), yang juga sama-sama pernah kehilangan anak.
Kerumitan ini juga dibarengi dengan permasalahan masing-masing rekannya. Whit dibenci anaknya karena cerai dengan istri akibat berselingkuh, Claire yang bimbang karena belum juga menikah namun menginginkan anak, serta ketakutan Simon akan penyakit yang dideritanya sejak umur 16 tahun.
Meski kompleks, namun setiap karakter dipaksa merenung atas kejadian yang menerpa diri mereka masing-masing. Pada titik ini, mereka dituntut berjuang dalam mencari solusi atas permasalahan yang mengungkung kehidupannya.
Collateral Beauty menawarkan cerita menarik di samping kedigdayaan lini masa perfilman dunia yang dikuasai film-film superhero beken 2016, baik dari franchise raksasa Marvel ataupun pesaingnya, DC. Lewat pesan yang menyentuh Collateral Beauty dinilai memberikan nuansa berbeda sebagai penutup sinema layar lebar tahun ini.