Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto

Pertamina Harus Kebal Terhadap 'Mafia'

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto

img_title Perwakilan Kampus Luar Negeri Pelajari Transformasi Digital Pertamina

Apa fokus strategi Pertamina ke depan untuk dapat bersaing dengan perusahaan migas kelas dunia?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadi kalau perusahaan kelas dunia ya harus go internasional, kalau hebat di nasional bukan world class, karena bertarung di rumah sendiri. Apalagi sekarang kita memasuki era baru.

img_title Sinergi Pemerintah dan Pertamina Percepat Pemulihan Distribusi BBM di Bali

Memang Pertamina lebih unggul di hilir, dengan Pertamina masih memegang peran distribusi bahan bakar minyak yang paling besar di Indonesia. Tapi, jadi world class memang kita harus bisa go internasional.

Tulang punggung industri minyak adalah di hulu. Dulu ketika harga minyak tinggi di US$100 maka 90 persen keuntungan Pertamina dibangun oleh upstream, hanya 10 persen dari midstream.

img_title Cek Harga BBM Pertamina, Shell, dan BP Hari Ini 19 Oktober 2026, Ada yang Tembus Rp25.000

Nah sekarang ketika harga minyak turun di US$30 dan rata-rata US$30-40 per barel, downstream memegang peran 70-80 persen, upstream memegang 20 persen.

Kalau Pertamina ingin jadi perusahaan world class, tulang punggungnya adalah di upstream. Siapa yang menguasai upstream maka dia akan pegang kendali di downstream.

Pertamina, sejak lahir berada di Indonesia dengan penduduk 200 juta orang, berarti konsumsinya pasti tinggi. Sekitar 40 persen konsumsi Asia Tenggara ada di Indonesia.

Kalau kita ingin world class, keduanya, hulu dan hilir, harus go internasional. Karena di Indonesia, Pertamina pasti akan tertekan di pasar, tapi kita tidak boleh tetap dalam posisi tertekan. Kita harus mencari kompensasi untuk posisi go internasional di downstream dan upstream.

Karena Indonesia cadangan migas sudah terbatas, untuk memenuhi kedaulatan energi, maka mau tidak mau harus go internasional mencari ladang-ladang migas baru di luar negeri. Kita percepat eksplorasi migas di hulu.

Jadi aturan paling dasar adalah Pertamina kalau mau investasi 100, maka sekitar 60-70 persen itu adalah untuk upstream, sedangkan sisanya adalah untuk midstream maupun downstream.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada saat harga minyak dunia rendah, perusahaan seperti Petronas, Exxon, BP, terpukul semua. Mereka di downstreamnya tidak kuat karena penduduk negaranya sedikit.

Kita punya anugerah konsumsi BBM yang tinggi, kita pertahankan. Jadi usaha Pertamina lebih kita arahkan untuk membangun bisnis upstream dan go internasional.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut