Pertamina Harus Kebal Terhadap 'Mafia'
- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
Apa saja proyek Pertamina untuk go internasional?
Untuk posisi internasional, Pertamina di 2014 bergerak di Aljazair, Irak, dan Malaysia di 2015. Pada 2016 kita ambil akuisisi perusahaan Prancis, Maurel and Prom.
Maurel and Prom memiliki aset blok migas di Amerika Latin dan Afrika. Blok produksi migas di Gabon, dan Tanzania. Selain itu punya blok eksplorasi Nigeria, Tanzania, Namibia, Myanmar, Kanada, dan Italia.
Jadi ini potensi untuk kita mengembangkan fasilitas produksi kita di luar negeri. Kalau yang sudah produksi migas di Gabon sama Tanzania, yang lain-lain masih dalam bentuk eksplorasi-eksplorasi, tapi ini akan punya potensi.
Lalu, yang kedua, kemarin kami juga sudah jalin kerja sama dengan Rosneft, perusahaan migas Rusia, untuk bisa mendapatkan wilayah kerja di sana. Lalu kemarin kami juga datang dengan Presiden Joko Widodo ke Iran. Kita mengharapkan dua blok migas di Iran.
Pada saat yang sama kita juga sedang memproses peningkatkan kapasitas upstream di Aljazair maupun Iran.
Saat ini kemampuan upstream produksi minyak dan gas Pertamina 600 ribu barel ekuivalen minyak per hari. Kita targetkan di 2025 menjadi 1,9 juta barel ekuivalen minyak per hari. Dari luar negeri kita targetkan 500 ribu barel dalam 10 tahun ke depan.
![]()
Bagaimana cara Pertamina mengemban tugas BBM satu harga, apakah itu memberatkan Pertamina?
Dari aspek korporasi ini ada tambahan tugas, tapi tugas Pertamina memang harus berperan mendukung pemerintah untuk BBM satu harga.
Jadi sebenarnya yang belum mendapatkan BBM satu harga di daerah-daerah terluar, terpencil dan tertinggal. Volumenya sangat kecil.
Volume Papua cuma tiga persen dari Indonesia, terluarnya itu cuma mungkin satu persen. Meskipun biaya naiknya banyak. Misalnya kalau di tempat lain BBM dijual Rp6.500, sampai di Papua Rp60 ribu, harga jadi 10 kali, tapi volumenya hanya tiga persen.
Jadi sebenarnya enggak berat-berat amat, karena secara volume kecil. Ini juga bagian strategis untuk mengembangkan sistem distribusinya Pertamina.
Jadi kalau Pertamina tadi itu cukup dengan membangun stasiun pengisian bahan bakar umum di kabupaten satu-satu, dengan begini maka memaksa Pertamina mengembangkan distribusi lebih jauh, sehingga masyarakat bisa mendapatkan harga yang terkendali.