Militansi dan Kompetisi K-Popers
- Facebook.com/pg/bangtan.official
Fenomena ini cukup memprihatinkan. Menurut Psikilogi, Evnie Indranie rata-rata para penggemar idola Korea itu adalah remaja yang berusia belasan tahun. Di masa remaja itu adalah hal yang alamiah mereka mencari sosok idola. Dilihat dari sisi positifnya, berarti remaja itu melewati pengembangan fase alamiah mereka.
"Jadi memang ini hal yang alamiah secara fase perkembangannya. Dengan munculnya para artis yang dibuat sedemikian rupa berdasarkan strategi market-nya, membuat penggemar, yang remaja putri ini tertarik dan mengidolakan mereka," kata Evnie saat dihubungi VIVA.co.id.
Ditambahkan Evnie, di saat remaja, memang mereka memiliki figur identifikasi. Dan di masa ini, banyak artis-artis Negeri Ginseng yang menjadi idola para remaja di Indonesia.
Para remaja ini menjadikan artis Korea itu sebagai panutannya. Mereka menganggap para artis ini adalah bagian dari dirinya. Hanya saja, menurut Evnie jika rasa suka ini terlalu berlebihan, justru dikhawatirkan akan mengarahkan mereka melakukan tindakan ekstrem. Â
"Jadi saat artis ini diserang, dihina atau ada pihak lain yang mengidolakan artis ini mereka tidak suka. Mereka tidak ini artis idolanya menjadi bagian dari orang lain, atau dihina. Ini bagian dari penghayatan internalisasi mereka yang membuatnya menjadi agresif, dan mereka sangat benci sekali," ujarnya.
Jika sampai terjadi kondisi tersebut, akan sangat membahayakan, karena tak jarang mereka akan lepas kendali. Dijelaskan Evnie, saat penghayatan mereka terganggu, seperti menghadapi persaingan dengan sesama fans atau penggemar artis lainnya, biasanya yang akan muncul tindakan agresif.
"Mereka bisa menyerang secara verbal dan fisik. merusak barang-barang orang yang menjadi saingannya," katanya.
Di sinilah, kata Evnie para orangtua dibutuhkan saat anak-anak mereka beranjak remaja dan memiliki idola. Hal ini agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan si anak dan juga orang lain.
"Mereka harus ada pendampingan orangtua. Orangtua dijadikan figur saat mereka berbagi cerita tentang idolanya. Jadi di sini orangtua juga bisa berperan sebagai teman. Hanya saja kan, banyak juga orangtua yang tak tahu idola anaknya," ujarnya.Â