Alasan Kenapa Harus Hati-hati Sama Utang

Ilustrasi utang.
Sumber :
  • Pixabay/Stevepb

VIVA.co.id – Dana Moneter Internasional, atau IMF memberikan alarm tentang utang rumah tangga. IMF meminta setiap negara di dunia, untuk memperhatikan data utang rumah tangga yang terus naik. 

img_title Waspada! Ini Tanda-tanda Masalah Keuangan yang Jarang Disadari, Nomor 3 Bisa Bikin Terlilit Utang

Dalam laporan Stabilitas Keuangan Global, Oktober 2017, IMF menemukan utang rumah tangga di negara-negara maju dan negara-negara berkembang terus meningkat, setelah krisis keuangan global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Median, atau rata-rata rasio utang rumah tangga terhadap PDB di antara negara-negara berkembang meningkat dari 15 persen pada 2008, menjadi 21 persen pada 2016. Di antara negara-negara maju, rasionya meningkat dari 52 persen menjadi 63 persen selama periode yang sama.

img_title Sederet Ujian Rumah Tangga, Paling Umum Adanya Campur Tangan Mertua

IMF khawatir, dalam jangka waktu tiga hingga lima tahun, utang rumah tangga yang terus naik akan menyebabkan terjadinya krisis perbankan. 

Dalam jangka pendek, ketika rasio utang rumah tangga meningkat terhadap PDB, ekonomi akan tumbuh lebih cepat, dan tingkat pengangguran akan turun. Kabar baiknya, saat ini, ancaman tersebut lebih terasa di negara-negara maju daripada di negara berkembang. 

img_title Marshanda Blak-blakan Ngaku Kesulitan Keuangan Hingga Ngutang untuk Pengobatan

Di negara maju, utang rumah tangga maupun pasar kredit lebih tinggi dari negara berkembang.

Meskipun begitu, akhir-akhir ini godaan berutang bagi setiap rumah tangga di negara berkembang, termasuk Indonesia, sangat besar. Dengan kemudahan teknologi digital, pengajuan pinjaman dapat dilakukan sangat cepat, mudah, dan dengan nilai yang besar. 

Meskipun peringatan ini tidak langsung ditujukan kepada warga Indonesia, namun peringatan bisa menjadi alarm bagi setiap rumah tangga untuk mengelola aset dan utang serta belanja dengan baik. 

Berikut ini, ulasan dari Halomoney.co.id tiga alasannya hal itu bisa terjadi:

1. Godaan pinjaman online sungguh besar

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di Indonesia saat ini banyak sekali situs dan aplikasi teknologi finansial yang menawarkan pinjaman cepat. Meski dengan bunga yang mahal, tawaran ini dikabarkan banyak diminati masyarakat Indonesia, terutama kelas menengah berpenghasilan di atas Rp10 juta per bulan yang membutuhkan bridging loan, atau kredit talangan. 

Tingginya permintaan kredit online yang cepat ini menyebabkan sebuah perusahaan fintech hingga kehabisan dana untuk disalurkan, sehingga harus menghentikan penawarannya. Namun, dengan keuntungan berlipat, bunga satu persen per hari, perusahaan fintech itu merayakan keberhasilannya dengan rapat kerja di luar negeri. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut