Portamento di Industri Ekonomi Kreatif
- VIVA/Ikhwan Yanuar
Itu penting karena kita ternyata belum punya riset yang mumpuni, sehingga dibentuk sebuah kedeputian yang tugasnya membentuk riset, melakukan pendataan, yang merupakan big data yang kita perlukan. Lalu, kita kerjasama sama BPS untuk mengeluarkan data setiap tahun.
Karena pada waktu itu tidak ada data. Data ekonomi kreatif kita itu tidak ada. Sehingga kita bikin pada tahun 2015. Sehingga kita tau besaran kita itu berapa. Besaran kita itu, Ekonomi kreatif itu kontribusi kita ke PDB itu adalah Rp852 triliun pada 2015.
Nantinya data Ekonomi Kreatif Itu dipisahin dari data makro?
iya dipisahin, lalu ini lagi kita perbaiki terus, mudah-mudahan akhir 2017 sih kita bisa sampai minimal Rp1.000 triliun. Nah, perjalanannya memang tadi sangat sulit. Baru di akhir 2015 saya punya wakil kepala, punya deputi,
yang setelah seleksi oleh UI dan dilemparkan kepada saya, saya musti approval karena ini eselon I, musti ada tim penilai akhir (TPA) dari Presiden. Jadi saya harus melakukan sidang itu dengan Presiden untuk memilih final siapa aja yang dipilih.
Oke akhirnya dipilih. Tapi Sestama kita atau sekretaris utama kita, sekjen kita itu dia harus PNS. Kalau yang eselon I tadi boleh PNS boleh tidak, dan kebetulan dalam seleksi pansel yang terpilih, yang terbaik itu yang non PNS yang sampai sekarang ini (Deputi).
Nah, tapi kalau Sestama itu harus PNS karena dia pegang uang pegang anggaran, pegang birokrasi, jadi back office kita kan. Nah itu, kita mendapat lungsuran dari bekas dirjen di Kemenparekraf, Bekas Dirjen.
Nah, terlalu berat mungkin tugas ini sehingga dia mengundurkan diri, akhirnya saya baru dapat penggantinya sestama di Juli 2016, jadi baru setahun. Nah setelah ada Sestama baru kita fully function. Jadi kita baru satu tahun setengah lah fully functioning. Tapi udah mulai dirasakan, ada manfaat dan ada kebutuhan yang mana kegiatan semakin tinggi.
Di awal gebrakan apa yang sudah dilakukan Bekraf?
Salah satu tonggak kita dalam menciptakan atau memebereskan ekosistem adalah di film. Film itu kita melihat setelah 30 tahun lebih, atau 35 tahun lebih pada saat itu didominasi oleh satu pemain, which is okay, bahwa karena dia pemain serius. Bikin bioskop yang terbaik di dunia. Bioskop 21 (XXI). Tapi ada satu halangan untuk investor besar untuk masuk, karena tidak diperbolehkannya investor asing ke (sini)