Badan Siber Harus Perhatian Ekstra ke E-Commerce

Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Djoko Setiadi
Sumber :
  • REUTERS/Darren Whiteside

Menurutnya, bukan cerita baru bahwa para peretas lebih membidik sistem keuangan di banyak negara, termasuk di Indonesia. Meluasnya layanan teknologi finansial (fintech) dan munculnya alat pembayaran baru tak pelak menciptakan peluang baru bagi para peretas untuk melancarkan serangan  yang sulit diantisipasi.

img_title Sambut Mudik Lebaran, Perusahaan Ban Ini Rambah Dunia eCommerce

Kondisi tersebut menurut Bambang merupakan konsekuensi logis; semakin tinggi penerapan teknologi digital pada sektor industri dan perdagangan, semakin tinggi pula potensi ancamannya. Dengan mulai bekerjanya BSSN, dia mengharapkan, potensi ancaman itu bisa terdeteksi dan diminimalkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Selain sektor keuangan, BSSN juga perlu memberi perhatian ekstra pada e-commerce atau ritel. Para peneliti dan praktisi teknologi informasi sudah mengingatkan bahwa meningkatnya bisnis ritel online menempatkan bisnis ini rentan terhadap serangan siber. BSSN patut menggarisbawahi hal ini, karena jumlah masyarakat yang aktif dalam kegiatan belanja dan transaksi online dewasa ini terus meningkat," kata Bambang.

img_title Shopee Luncurkan Program Baru, Garansi Tepat Waktu

Belajar dari CIA

Ia menuturkan, karena teknologi terus berkembang, strategi pelaku kejahatan siber pun ikut berevolusi. Selalu ada yang baru pada pola ancaman dan serangan dari pelaku kejahatan siber yang tidak diduga sebelumnya.  

img_title Viral Tanah Kuburan Dijual di E-commerce Bikin Geger Warganet, Bisa Buat Pesugihan?

Karena itu, selain menangkal, BSSN pun harus bisa menjadi kekuatan yang antisipatif.  Tentu saja kualifikasi SDM yang mumpuni sangat menentukan. Tidak masalah jika negara harus mengeluarkan biasa besar untuk menyiapkan SDM yang dibutuhkan BSSN.  Sebab, tantangan zaman mengharuskan BSSN mampu mengantisipasi dan menangkal serangan siber.

"Sebagai bagian dari alat pertahanan nasional, BSSN bersama pemerintah patut belajar dari kasus tuduhan dinas intelijen Amerika Serikat  (CIA) tentang aksi peretasan ribuan email Komite Nasional Partai Demokrat dan Partai Republik oleh dinas rahasia Rusia,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kasus peretasan yang melanda AS itu masih berproses sampai sekarang dan selalu mengganggu Presiden AS Donald Trump. Sebab, dari peretasan itu, CIA secara tidak langsung menuduh Rusia membantu kemenangan Trump.  Beberapa tahun lalu, intelijen Australia juga diketahui menyadap telepon presiden Indonesia dan beberapa menteri.

Menurutnya, sangat beralasan jika semua pihak berharap BSSN bisa mengamankan ragam kepentingan nasional. Bisa mencegah penetrasi intelijen asing ke dalam negeri, mengamankan data negara dan melindungi semua pejabat negara dari aksi penyadapan oleh pihak asing. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut