Trump: Pelarangan Imigran Bukan Soal Muslim atau Agamanya

Aksi unjuk rasa terjadi di bandara international Dulles di Chantilly, Virgiana.
Sumber :
  • Reuters/Mike Theiller

VIVA.co.id – Ratusan ribu warga AS sejak akhir pekan lalu berunjuk rasa menolak keputusan mendadak Presiden Donald Trump, yang menolak pengungsi dari negara-negara Islam. Tapi, Trump berkilah pelarangan itu bukan masalah agama.

Borosnya Biaya Hidup Presiden AS Donald Trump

Sehari setelah Trump resmi melarang imigran dari tujuh negara – yang mayoritas penduduknya beragama Islam – memasuki AS, banyak warga melakukan protes atas keputusan tersebut. Di Kota New York, Washington, dan Boston dua gelombang demonstrasi terjadi secara spontan dan melumpuhkan bandara pada Sabtu, 30 Januari 2017.

Aksi protes terjadi setelah Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan melakukan perintah langsung Trump. Hanya hitungan sehari, gelombang protes langsung meluas.

Ivanka Resmi Jadi Penasihat Ayahnya, Trump

Perintah pelarangan yang dilakukan Trump, termasuk pelarangan pengungsi dari Suriah dan menunda perjalanan ke AS dari Suriah, Irak, Iran, dan empat negara lainnya dengan alasan demi keamanan AS. Keputusan itu menimbulkan penahanan dan deportasi ratusan orang yang sudah berada di bandara AS.

Salah satu aksi protes yang paling besar terjadi di Battery Park di Lower Manhattan, tepat dibawah sinar patung Liberty di pelabuhan New York, yang selama ini menjadi simbol kedatangan di dataran AS.

Iklan Kreatif Maskapai Timur Tengah Melawan Larangan Trump

Senator dari Partai Demokrat, Charles Schumer, menilai apa yang dilakukan oleh Trump itu bukanlah ciri Amerika dan berlari jauh dari nilai dasar negara tersebut. "Apa yang kita bicarakan saat ini adalah tentang hidup dan mati dari banyak orang," ujarnya seperti dikutip dari Reuters, 30 Januari 2017. "Saya tak akan beristirahat hingga perintah mengerikan ini dicabut kembali."

Menurut hitungan Reuters, aksi protes di Manhattan  itu diikuti oleh 10.000 orang. Di Washington ribuan orang melakukan aksinya dengan berkumpul di Lafayette, yang berseberangan dengan Gedung Putih. Mereka membawa spanduk bertuliskan, "Tak ada kebencian, tak ada rasa takut, pengungsi diterima dinegeri ini."

Sementara pada hari Minggu, sejumlah pengunjukrasa meninggalkan Gedung Putih dan berjalan sepanjang Pensylvania Avenue, berhenti di depan hotel milik Trump dan berteriak,"memalukan, memalukan, memalukan." Polisi mengatakan, jumlah mereka mencapai 8.000 orang. Polisi berseragam lengkap dikerahkan untuk menjaga para pengunjukrasa.

Menanggap aksi demo, Trump mencoba melakukan klarifikasi. "Agar jelas, ini bukan soal pelarangan Muslim, seperti yang salah diberitakan oleh media," ujar Trump. "Ini bukan tentang agama, ini tentang teror, dan membuat negara kita tetap aman," ujarnya menegaskan. (ren)

Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Presiden AS, Donald Trump (tengah).

Trump Mainkan Tarif Impor, Begini Dampaknya ke RI

Dampak besarnya jika Eropa ikut juga menerapkan kenaikan tarif impor.

img_title
VIVA.co.id
7 Maret 2018