Tebar Kebencian Muslim, Kedatangan Biksu Garis Keras Ditolak

Biksu garis keras Myanmar, Wirathu.
Sumber :
  • Reuters/Soe Zeya Tun

VIVA.co.id – Kedatangan biksu Buddha garis keras bernama Wirathu bersama tiga pengikutnya, ditolak oleh pemerintah daerah Ayeyawaddy, Myanmar.

5 Negara Terang-terangan Ada Gerakan Islamophobia

Rencananya, khotbah dijadwalkan akan digelar pada Rabu pekan depan, di ibu kota Negara Bagian Pathein tersebut, sekitar 200 kilometer sebelah barat Yangon.

Penolakan ini dilakukan, karena biksu tersebut terkenal dengan isi khotbah yang menebar kebencian terhadap komunitas Muslim di negeri itu.

New York City Schools Provide Learn about Antisemitism, Islamophobia

Juru Bicara Pemerintah Daerah Ayeyawaddy, Kyaw Myint, seperti dikutip situs Anadolu Agency, Kamis 2 Februari 2017, mengungkapkan, larangan khotbah publik ini untuk menghindari situasi yang tidak diinginkan di wilayahnya.

“Keputusan ini bulat dan sudah disetujui pada pertemuan musyawarah pimpinan daerah," kata Myint.

Ramai Seruan Boikot Drama Marry My Husband, Penulis Ceritanya Diduga Islamophobia

Wirathu, seorang biksu terkemuka, namun kontroversial ini, pernah muncul di sampul utama Majalah Time yang digambarkan sebagai "Wajah Teror Buddha?" karena kebenciannya terhadap Muslim.

Kendati demikian, hasil keputusan terbaru menyebut bahwa tiga biksu lainnya tetap diizinkan untuk menyampaikan khotbah umum, atau seperti yang sudah direncanakan.

Larangan ini terjadi beberapa hari, setelah pembunuhan anggota Partai NLD, partainya Aung San Suu Kyi, yang juga pengacara Muslim, U Ko Ni.

Ko Ni ditembak mati oleh seorang pria bersenjata bernama Kyi Lin (53) di luar Bandara Internasional Yangon, Minggu lalu. Seorang sopir taksi juga tewas bersamanya, ketika ia berusaha menangkap Lin. (asp)

Anggota Parlemen Inggris Lee Anderson (Doc: ANews)

Anggota Parlemen Inggris Dinonaktifkan dari Partainya Karena Menjelekkan Islam

Anggota Parlemen Inggris dari Partai Konservatif, Lee Anderson, ditangguhkan keanggotaan partainya karena pernyataannya yang kontroversi soal Wali Kota London, Sadiq Khan

img_title
VIVA.co.id
25 Februari 2024