Logo BBC

Anak-anak Korban Gempa dan Tsunami Palu yang 'Kembali dari Ajal'

Reunion -ADEK BERRY
Reunion -ADEK BERRY
Sumber :
  • bbc

Perjumpaan kembali

Begitu muncul, Jumadil langsung melompat dari sepeda motor, menghambur ke pelukan ibunya. Reuni emosional mereka setelah lima hari pencarian itu terekam dalam film.

Dia memeluk ibunya yang terus menghujaninya dengan ciuman. Air mata mengalir membasahi wajah mereka. Jumadil menangis tersedu-sedu, sampai terengah-engah.

"Dia memeluk saya erat seperti tidak mau melepaskan lagi, kakinya melilit saya seperti monyet," kenang Susi.

"Kami tidak berbicara apa-apa. Dia sangat ketakutan. Banyak orang berkerumun di sekitar kami. Saya merusaha meyakinkannya bahwa sekarang semuanya baik-baik saja."


Jumadil berjumpa lagi ibunya setelah lima hari terpisah akibat tsunami. - ADEK BERRY

Penyelamat misterius

Susi masih menunggu beberapa hari sebelum akhirnya menanyakan apa yang terjadi kepada anaknya.

"Saya bertanya dengan lembut, `Apa yang terjadi pada hari itu, Madil? Dan dia menjawab, `Saya bermain di pasir dan tidak mengerti mengapa semuanya goyang-goyang.`

"Lalu saya tanya siapa yang ambil Madil waktu gempa itu. Dia bilang polisi."

"Tapi polisi yang mana, tidak tahu, sampai sekarang," kata Susi, sang ibu.


Jumadil diselamatkan oleh seorang polisi yang sampai sekarang belum diketahui orangnya.. - ADEK BERRY

Yang menunggu lebih lama

Lain lagi yang terjadi pada Fikri, bocah tujuh tahun yang hilang setelah neneknya pulang sebentar untuk memadamkan kompor.

Hari terus berlalu dan keluarga Fikri hampir putus asa - sampai akhirnya seorang staf Dinas Sosial tiba di rumah mereka.

"Mereka membawa foto, mungkin baru difoto dengan HP, dan saya ditanya, `Inikah cucunya?` O iya! Ini! Sudah! Ini sudah!"

Lalu semua keluarga diberi tahu. "Sudah ada Fikri, sudah ada Fikri` jadi kami semua langsung mau pergi ketemu dia. Eh belum, katanya ada di Morowali Utara."

Morowali itu 500 kilometer jauhnya dari sana.

Baru setelah Fikri bersama mereka lagi, tiga minggu setelah dia hilang, keluarga itu mengerti bagaimana dia bisa mengembara sejauh itu.

"Kalau saya tak menyelamatkan anak ini, siapa lagi?"

Seorang mahasiswa Kadek Ayu Dwi Mariati, 20, mengatakan ia menemukan Fikri di pinggir jalan.