Logo BBC

Anak-anak Korban Gempa dan Tsunami Palu yang 'Kembali dari Ajal'

Reunion -ADEK BERRY
Reunion -ADEK BERRY
Sumber :
  • bbc

Ayu saat itu bersama temannya Wayan Sukadana tengah naik motor dan menyelamatkan diri dari tsunami.

Fikri saat itu mengalami luka-luka dan Kadek mengatakan ia menangis mencari bapak dan ibunya. Ia pakai kaus.

"Niatnya, memang betul-betul saya menyelamatkan diri dengan teman. Sebenarnya enggak ada niat mau menolong Fikri. Jujur saja," Kadek mengingat lagi.

"Karena saking paniknya, enggak ada untuk menolong siapa-siapa."

Tetapi dalam hitungan detik, Kadek mengaku berpikir keras. "Kalau bukan saya yang tolong, apakah ada orang lain yang tolong anak ini."

Saat itu, Fikri mengaku orang tuanya "sudah tidak ada" karena rumahnya di pinggir pantai "hanyut".


Mahasiswa Kadek Ayu Dwi Mariati menemukan Fikri di pinggir jalan. - BBC

Ketika Ayu pulang ke kampungnya di Morowali Utara, dia berencana menitipkan Fikri ke saudara jauhnya di Palu. Namun bocah itu menolak.

"Maunya ikut saya dan teman saya. Dia tidak mau tinggal dengan orang lain."

Namun sebelumnya dia melapor ke polisi perihal Fikri. Dia menitipkan nomor telepon genggam orang tuanya jika ada keluarga yang mencari Fikri.

"Kalau seandainya orang tuanya masih hidup, tolong hubungi orang tua saya."

Ayu mengaku senang campur sedih ketika akhirnya orang tua dibertemu.

"Sedihnya, karena harus pisah dengan dia. Senangnya, bersyukur karena orang tuanya masih ada. Saya rindu dia karena beberapa minggu tinggal bersama."

Mukjizat

Perjumpaan mereka juga terekam dalam film. Keluarganya diminta oleh para staf Dinas Sosial and team UNICEF untuk menunggu di sebuah tenda - tidak ada yang membuka mulut dan mereka gelisah dan hanya menatap tangan mereka sendiri dengan gugup.

Kemudian Fikri dibawa masuk. `Alhamdulillah` teriak mereka dalam tangis sembari memeluk Fikri dan merangkulnya erat-erat.

Fikri berseri-seri, mengenakan kemeja dan jins yang rapi.

"Kami menangis dan memeluknya tanpa henti," kenang Selfi.

"Kami menangis gembira semua bercampur haru. Kita gembira karena Allah masih memberi kami waktu untuk kami membimbingnya. Terharu karena masih ada orang yang selamatkan dia. Kami hanya bisa menangis dan bersyukur pada Allah."

Trauma

Orangtua Fikri telah membawanya kembali untuk tinggal bersama mereka di Gorontalo. Sekolah di Palu belum dibuka lagi secara normal, dan kini mereka ingin selalu berada dekat dengannya.