Jejak Samar Yahudi di Jakarta
- world religion
Meski banyak keturunan Yahudi di Indonesia, tak semuanya masih bertahan dengan Yudaisme, agama orang Yahudi. Banyak yang sudah berpindah keyakinan, dengan alasan yang beragam. Nenek Monique, juga ibu dan ayahnya sudah lama meninggalkan keyakinan Yudaisme, dan beralih menjadi Kristen. "Yudaisme adalah agama asli orang Yahudi. Mereka menjaga tradisi dan bahkan sangat ketat menjaganya," ujar Monique.Â
Beberapa tahun lalu Monique mendirikan yayasan Hadassah of Indonesia. Sudah beberapa kali perizinan yayasan tersebut ditolak. Sebab, awalnya ia menyertakan nama Yahudi. Tapi setelah kompromi dan memilih nama Hadassah of Indonesia, izin yayasan diberikan. Monique memutuskan untuk melakukan edukasi tentang Yahudi dan keturunan Yahudi di Indonesia. Ia menyelenggarakan pemutaran film, dan diskusi tentang Yahudi. Meski sudah beragama Kristen, namun Monique merasa memiliki kewajiban untuk mendudukkan permasalahan soal Israel, Yahudi, dan Yudaisme.Â
Masuknya Yahudi ke IndonesiaÂ
Yahudi di Indonesia tidak serta merta ada atau baru kali ini saja. Mereka, seperti yang disampaikan Monique, memang sudah ada sejak berabad-abad lampau. Â Kisah masuknya Yahudi ke Indonesia disampaikan dengan detil oleh Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., M.A, dosen program studi Hubungan Internasional, Universitas Al Muslim, Aceh.Â
Pria yang akrab disapa Pon Cut ini sudah berulang kali meneliti soal masuknya Israel dan Yahudi ke Indonesia, terutama melalui Aceh. Menurut Pon Cut, gelombang masuknya orang Yahudi ke Indonesia terpecah dua. Pertama pada abad ke 8 dan 11 Masehi, dan gelombang kedua adalah awal abad ke 20, dibarengi dengan VOC.Â
![]()
Pada Abad ke-11 ditemukan Arsip Geniza di Synagogue di Fustat, Mesir. Penemuan ini memperkuat bukti sejarah bahwa pada Abad Pertengahan telah terjadi hubungan perdagangan antara Mesir, India, dan nusantara. Dalam arsip berisi informasi tentang seorang pedagang Yahudi dari Mesir berlayar menuju Barus (Fansur) di Tapanuli Tengah, dan meninggal di sana. Di masa itu Barus menjadi pusat perdagangan emas dan kapur barus terbaik di dunia," ujar Pon Cut.
 Ia menyampaikan, informasi tersebut ditemukan dalam buku yang berjudul Letters of Medieval Jewish traders, karya Goitein, 1973. Alasan mereka datang adalah untuk berdagang, dengan transportasi kapal laut.Â