Jejak Samar Yahudi di Jakarta

Yudaisme/Ilustrasi
Sumber :
  • world religion

Pon Cut mengatakan, dalam data antara periode tersebut, jumlah orang yang mengikuti naturalisasi yang berasal dari berbagai Negara di Eropa berjumlah 11.091 orang. Contohnya di Aceh, banyak orang Yahudi Rumania, Eropa Timur yang ikut program naturalisasi, yang akhirnya berkebangsaan Belanda. Di Rumania mereka berasal dari Kota Botosani, Bojan, Piatra, Harlou, dan Braila. Selain dari Rumania, ada juga yang berasal dari Rusia dan Austria.

img_title Trump Sebut Yahudi yang Pilih Cawalkot New York Zohran Mamdani 'Orang Bodoh'

Kehadiran mereka di Indonesia ternyata tak semua untuk kepentingan bisnis. Ada juga orang Yahudi yang menjadi anggota dari kepolisian Pemerintah Hindia Belanda, yaitu Mr.C.J van der Zijl. Ia adalah seorang pria kelahiran Groningen, 15 Mei 1839. Van der Zijl berprofesi sebagai polisi di Aceh Besar yang meninggal karena luka tertembak di Kroeng-Kali pada 4 Agustus 1881.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Proses akulturasi warga Yahudi sangat baik. Karakteristik akulturasi mereka adalah integrasi, di mana mereka mampu mempertahankan budaya mereka seperti banyak keluarga keturunan Yahudi yang dapat berbahasa Hebrew dan mempertahankan tradisi agama dan budayanya, tapi juga menjadi bagian dan terintegrasi dalam nilai, sikap, dan budaya Indonesia. Mereka telah lama hidup di Indonesia. Mereka keturunan ketiga hingga keempat. Jika kita tanya kepada mereka, mereka orang mana? Mereka akan mengatakan “Kami orang Indonesia dan mencintai Indonesia,” urainya.

img_title Puluhan Ribu Umat Yahudi Ortodoks Demo Netanyahu, Tolak Wajib Militer

Bahkan, di antara keturunan Yahudi itu ada yang telah beragama Islam atau menikah dengan pasangan yang beragama Islam. Dan mereka hidup sebagai warga negara Indonesia, tak berbeda dengan warga negara pada umumnya. 

Jejak Yahudi di Jakarta

img_title Serangan di Sinagoge Manchester Tewaskan 2 Orang dan 3 Luka-luka, Pelaku Ditembak Mati

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mencari jejak kaum Yahudi di Jakarta ternyata tak mudah. Tak banyak yang berani menampilkan diri sebagai seorang Yahudi. Bahkan sebisa mungkin mereka menghindar.  Beberapa kali mengajukan permohonan wawancara, tiga narasumber yang awalnya setuju, akhirnya membatalkan. Penulis juga sudah sempat diizinkan datang ke sebuah upacara yang akan diadakan, namun akhirnya dibatalkan. Dipersilakan untuk datang, tapi tak diizinkan untuk liputan atau pemberitaan.

Situasi yang bisa dipahami karena kondisi yang terjadi saat ini jauh berbeda dibanding masa sebelum kemerdekaan. Menurut Teuku Cut Muhammad Aziz, masyarakat Indonesia di masa lalu sangat kosmopolitan dan tak peduli pada agama seseorang. Kehidupan orang Yahudi di negeri Muslim, atau mayoritas Muslim seperti Indonesia jauh lebih aman dibanding kehidupan mereka di Eropa yang penuh penindasan, hingga genocida. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut