Jejak Samar Yahudi di Jakarta
- world religion
Kehidupan mulai berubah setelah terjadi perang Israel-Palestina. Kemerdekaan Israel dianggap menafikan kemerdekaan Palestina. Dampaknya, kasus perebutan tanah ditarik ke ranah agama. Permusuhan kepada warga Yahudi berkembang menjadi aksi antisemitisme. Dan kondisi itu juga berimbas pada kehidupan kaum Yahudi di Jakarta. Menurut Pon Cut, warga Yahudi perlahan memilih menyingkir dan menyembunyikan identitasnya.
Rabbi Benjamin Meijer Verbrugge dari The United Indonesian Jewish Community (UIJC). Rabbi Ben, begitu ia biasa disapa, mengatakan jumlah keturunan Yahudi di Jakarta saat ini diperkirakan ada 4.000 hingga 5.000 orang. Tapi tak semuanya masih menganut Yudaisme. Banyak diantara mereka sudah berganti. Di komunitas yang ia pimpin, hanya ada 38 orang Yahudi yang sudah sah, dan berada di bawah supervisinya. Yahudi yang sudah sah adalah mereka yang sudah mendeklarasikan diri untuk kembali pada agama leluhur dan mendapat sertifikasi dari Rabbi dan organisasi Yahudi internasional.Â
Tapi tak mudah untuk seorang Yahudi yang ingin kembali. Sebab tak serta merta langsung diterima. Ada proses yang harus dilalui selama 1,5 hingga dua tahun untuk disahkan dan diberikan sertifikat sebagai penganut Yudaisme yang tercatat dan diakui.
"Saya tak mau menerima mereka yang hanya ingin datang sesekali, lalu kembali lagi ke agama asalnya. Saya ingin bertemu mereka yang komit untuk kembali menjalani kehidupan sebagai orang Yahudi. Karena memang menjalankan tradisi leluhur itu berat. Jadi butuh keinginan yang sungguh-sungguh untuk kembali dan menjalankan lagi tradisi leluhur. Kalau merasa agama asalnya lebih baik, silakan keluar dari supervisi saya, dan teruskan ajarannya. Bagi saya, meyakini agama asal jauh lebih baik, yang penting selalu tumbuh," ujar Rabbi Ben kepada VIVA.Â
Ia juga mengatakan, meski saat ini sedang menguat penolakan pada kaum Yahudi ia memilih tak terganggu. Rabbi Ben menegaskan, agama Yahudi bukan agama syiar. Jadi tak ada kewajiban bagi kaum Yahudi untuk mengajak orang lain untuk ikut memeluk agama mereka. Tak perlu ada yang takut warga Yahudi akan membesar. Meski, menurut Rabbi Ben, jumlah pertumbuhan warga Yahudi terus bertambah, tapi sifat agamanya yang tidak menyebarkan agama seharusnya tak dikhawatirkan.Â