Jejak Samar Yahudi di Jakarta
- world religion
Soal habisnya Sinagog di Jakarta juga tak ia persoalkan. "Agama Yahudi bukan agama gedung, tapi agama keluarga. Pembukaan ibadah Sabat selalu dilakukan di rumah, dengan bapak sebagai imam yang memimpin ibadah. Maka meski Sinagog enggak ada, tidak penting buat kami," ujar Rabbi Ben kepada VIVA.Â
Rabbi Ben menegaskan, bagi dirinya dan keluarganya, fokusnya beragama adalah membesarkan anak-anak sebagai Yahudi. Caranya dengan membawa kebanyakan tradisi di rumah, karena ke Sinagog hanya dilakukan setiap Sabtu. Tapi kebutuhan Sinagog tetap penting, karena Sinagog berfungsi juga sebagai rumah untuk doa atau bait el silah, rumah untuk belajar atau bait midraz, atau madrasah tempat studi Torah, dan rumah perkumpulan atau bait neseb. Namun jika tak ada, ibadah tak akan berhenti.
Bagi Rabbi Ben, agama selayaknya adalah hubungan personal atau pribadi seseorang dengan Tuhannya. Bahkan ia mengaku sangat tidak setuju dengan pencantuman kolom agama pada KTP. Meski demikian Rabbi Ben mengaku sejauh ini sudah menjalankan ibadah dengan tenang tanpa intimidasi. Ia tetap bisa menjalankan ibadah Sabat, yang dimulai pada Jumat Sore dan berakhir pada Sabtu sore. Rabbi Ben juga mengatakan bahwa sinagog memang dibutuhkan, tapi jika tidak ada, maka ibadah tetap bisa berjalan.Â
Hanya sedikit keturunan Yahudi yang bersedia terbuka, seperti Monique Rijkers atau Rabbi Ben. Pun keduanya tetap berhati-hati menjaga identitas diri. Jejak Yahudi di Jakarta memang samar, tapi bukan berarti tak terdengar. Mereka masih ada, bukan tiada. (umi)
Â