Banyak Kosmetik dan Obat Ilegal Beredar di Tanah Air, Ini Buktinya
- Foe Peace Simbolon/VIVA.co.id.
VIVA – Masyarakat diminta lebih teliti lagi bila membeli kosmetik, obat-obatan, bahan pangan dan elektronik. Sebab, banyak barang ilegal asal Tiongkok yang beredar di Tanah Air.
Hal ini diketahui setelah polisi membongkar sindikat penyelundup barang ilegal. Dari pengakuan pelaku, barang sudah beredar di beberapa daerah termasuk di Ibu Kota.
"Pasarnya di Jakarta, Jawa Barat, Sulawesi, Jawa Tengah. Kalau di Jakarta dipasarkan di Asemka," kata Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Gatot Eddy Pramono di Mapolda Metro Jaya, Rabu 14 Agustus 2019.
Barang awalnya masuk lewat negara tetangga Malaysia lewat  Pelabuhan Pasir Gudang Johor lalu diteruskan ke Pelabuhan Kuching Serawak. Di mana barang diangkut pakai truk menuju perbatasan Tanah Air kemudian diselundupkan lewat darat ke wilayah Jagoi Babang, Kalimantan Barat.Â
Kemudian barang diangkut lagi pakai truk besar dari Pontianak lewat Pelabuhan Dwikora untuk dikirim dengan kapal angkut masuk ke Pelabuhan Tegar. Kemudian barang tiba Marunda Center Kabupaten Bekasi.
"Saat merapat di pelabuhan pada 7 Aguatus, petugas langsung melakukan tindakan. Dan mengamankan 10 truk pembawa barang ilegal tersebut," katanya.
Barang ilegal ini diyakini merugikan masyarakat lantaran tidak lewat uji Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sehingga tak bisa dipastikan kandungannya. Total kerugian negara akibat kasus ini cukup banyak.
Dalam sebulan, penyelundupan dilakukan 4 kali dengan nilai barang dalam sekali pengiriman senilai Rp67,1 miliar. Jika  dikalikan setahun, barang ini bisa senilai Rp3 triliun lebih.
Lantas, atas dasar itu dalam sekali pengirman, kerugian yang ditimbukan sekira Rp17 miliar atau setara Rp68 miliar per bulan. Setahunnya negara kita bisa merugi hampir Rp800 miliar.
Melihat dampak kerugian besar, pihaknya tengah mengembangkan kasus karena disinyalir ada kelompok lain. Sementara dalam kasus ini sendiri empat orang ditetapkan jadi tersangka. Mereka adalah Pl, 63; H, 30; EK, 44; dan AH, 40 seorang Warga Negara Asing asal Tiongkok. Dari pemeriskaan, keempatnya sudah beraksi delapan tahun lamanya.
Keempatnya dikenakan pasal berlapis, yaitu Pasal 197 UU Nomor 36 tahun 2014 tentang Kesehatan, dengan pidana penjara 15 tahun, dan denda maksimal Rp.1,5 miliar. Kemudian Pasal 140 UU Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan, dengan pidana penjara 2 tahun, denda maksimal Rp.4 miliar.