- www.pixabay.com/tookapic
Kartika meyakini, keberadaan buzzer di Indonesia dimulai pada tahun 2007 ketika publik banyak menggunakan media sosial dari berbagai platform. Awalnya adalah friendster, myspace, flickr, dan lain lain sebelum munculnya facebook dengan features yang lebih lengkap sehingga banyak disukai oleh netizen.
Imbalan Berjuta-juta
Buzzer telah menjadi fenomena global. Dua ilmuwan dari Universitas Oxford, Inggris, Samantha Bradshaw dan Philip N.Howard menemukan bahwa buzzer politik di Indonesia ternyata berbayar. Melalui laporan yang bertajuk "The Global Disinformation Order: 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation, keduanya menyampaikan penggunaan pasukan siber dunia maya (cyber troop) bertugas untuk mempengaruhi opini masyarakat dan lawan politik. '
Menurut Bradshaw dan Howard, buzzer di Indonesia menggunakan empat platform media sosial, yakni twitter, facebook, WhatsApp, dan Instagram. Selain itu, dalam laporan tersebut fenomena yang terjadi di Indonesia diketahui bahwa politikus dan partai politik serta kontraktor pribadi menyebarkan propaganda pro pemerintah atau partai, menyerang lawan politik, dan menyebarkan informasi untuk memecah-belah publik.
Ilustrasi media sosial
Samantha dan Philip membagi buzzer menjadi empat kategori, yaitu minimal cyber troop teams (pasukan dengan kapasitas minimal), low cyber troop capacity (pasukan dengan kapasitas rendah), medium cyber troop capacity (pasukan dengan kapasitas menengah), dan high troop capacity (pasukan dengan kapasitas tinggi). Indonesia, menurut laporan itu menempati kategori low cyber troop capacity atau pasukan dengan kapasitas rendah. Para buzzer tersebut tidak dikontrak secara permanen, dan dibayar antara Rp1 juta hingga Rp50 juta.
Pengelola akun Twitter @satoedoeasatoe Irwan Suhanto seorang aktivis ‘90 an yang juga Sekjen Rumah Indonesia Merdeka (RIM), mengatakan bicara tentang buzzer maka kita harus memahami apa yang mereka sebarkan. Menurutnya, saat ini orang menpersepsikan buzzer sebagai penyebar hoax (berita bohong). Dalam politik, hoax itu analog dgn 'black propaganda', semacam propaganda asimetris untuk menjatuhkan lawan.
Menurut Irwan, sebenarnya itu adalah perkara lumrah. Kalau politisi takut sama black propaganda atau hoax sebaiknya dia tidak ikut politik. Karena black propaganda adalah suatu yang niscaya dalam politik.  "Jadi munculnya buzzer sangat lumrah, sebab diperlukan engine untuk menyebarkan black propaganda itu," ujarnya.