- www.pixabay.com/tookapic
Irwanto menuturkan, cara kerja buzzer sebenarnya sama saja dengan para penyebar pamflet black propaganda di masa lalu. Hanya medianya saja yang berubah mengikuti kemajuan teknologi.  Tujuan buzzer hari ini adalah merendahkan lawan politik sekaligus meningkatkan popularitas politisi yang mereka dukung.
Irwanto juga mengakui adanya buzzer yang tersistem dalam struktur yang resmi dan dikelola dengan profesional. Termasuk ada konsekuensi membayar honor para penggeraknya, hingga menyediakan infrastruktur dan peralatan kerjanya.
Enda Nasution
Buat Enda Nasution, jika dilihat dari metode yang dilakukan, buzzer saat ini adalah konsultan komunikasi untuk beberapa tahun silam. "Cuma kalau dulu yang bisa memproduksi informasi itu kelompok tertentu, terutama teman-teman jurnalis dan media. Sehingga bagaimana pun juga informasi yang sampai ke publik itu bisa dipertanggungjawabkan. Kalau jurnalis kan jelas, ada ketentuan kode etiknya, ada peraturan yang diatur, kalau dulu bahkan bisa dihukum bredel dan sebagainya.  Nah, konsekuensi munculnya ruang-ruang publik di era digital ini, maka kemudian siapapun bisa menyebarkan informasi," ujarnya menjelaskan.
Jadi, Enda menambahkan, kalau ditanya apakah soal buzzer ini baru atau sudah dari dulu, sebenarnya jawabannya adalah makin ke sini makin bermunculan, karena kebutuhannya semakin muncul. Ia menganalogikan kondisi ini sebagai sebuah medan pertempuran. Bagaimana bisa memenangkan pertarungan atau perang opini di ruang-ruang publik digital. Karena kalau lewat media mainstream atau media konvensional, maka tentunya harus disertai dengan bukti, fakta yang jelas.
"Kalau di media massa, tidak bisa tiba-tiba posting, dan ternyata salah. Kalau pun salah, kan seharusnya juga dikoreksi. Media massa ada proses cek and ricek dan berlapis untuk sampai pengecekannya itu. Tapi kalau di media sosial itu  bisa sengaja dibuat salah, sengaja dilakukan untuk memprovokasi, atau memancing lawannya emosi, dan sebagainya. Jadi memang ini bisa dibilang fenomena baru yang berkenaan untuk mengisi ruang-ruang publik digital sebenarnya," ujar Enda menjelaskan.
Enda menebak, tim pasukan buzzer ini terdiri dari kelompok independen. "Jadi tim-tim ini berdiri independen. Mereka yang membutuhkan tenaganya ini tahu bahwa mereka bekerja di mana, siapa mereka, dan sebagainya. Tapi mereka hanya memberikan arahan dan perintah, sehingga tim-tim independen ini ikut ke siapa yang mendanai saja. Dan mereka bisa berubah-ubah, tergantung bohirnya atau pendananya," ujarnya.