- www.pixabay.com/tookapic
Menurut Ujang, buzzer bukan hanya direkrut. Tapi juga dipelihara dan dijaga agar mereka bekerja sesuai kemauan 'tuannya.' Ia juga mengakui peran buzzer untuk mempengaruhi opini publik sangat signifikan. "Karena buzzer merupakan cyber army yang bertugas menyerang dan menjatuhkan lawan di udara. Juga untuk membangun pencitraan tuannya," ujarnya menegaskan.
Pengamat media sosial yang juga pendiri Jasmev Kartika Djumadi mengatakan, ada empat poin utama jika ingin peran buzzer menjadi maksimal di media sosial. Pertama adalah pemilihan platform yang disesuaikan dengan target audience, yang kedua adalah pemilihan isu yang ingin dijadikan pemicu diskusi, yang ketiga adalah mempengaruhi cognitive domains audience dan yang keempat adalah mempengaruhi affective domains audience.
Kartika mengatakan, tugas utama buzzer adalah meningkatkan public engagement dan mempengaruhi voting decision. Dan yang membuat buzzer marak saat ini adalah karena buzzer dianggap sebagai pembentuk opini publik. "Media massa konvensional sering mengangkat berita berdasarkan hashtag yang sedang trending di media sosial, padahal hashtag-hashtag tersebut tidak semuanya genuine, ada juga yang menggunakan akun akun BOT yang secara coverage dan engagement tidak berpengaruh sama sekali," ujarnya.
Sementara Enda Nasution mengatakan jasa buzzer akan terus dibutuhkan oleh mereka yang ingin memenangkan sebuah opini, atau mereka yang menjadi kandidat dalam Pilkada atau Pilpres.
"Tapi kan masing-masing punya strategi atau punya pendapat sendiri-sendiri. Ada juga yang mengatakan tidak penting itu buzzer-buzzer, yang penting itu adalah di lapangan," katanya. (umi)