- www.pixabay.com/tookapic
Direktur Riset Pollmark, Eko Bambang Subiantoro
Sementara influencer, adalah orang-orang yang menyampaikan opininya dan dukungannya pada kandidat tertentu. Cara yang mereka gunakan adalah menyampaikan argumentasi-argumentasi terhadap dukungannya.
"Kalau buzzer biasanya mereka cenderung menggunakan akun-akun anonim yang bekerja hanya untuk meng-counter atau menyerang lawan-lawannya di media sosial. Dan biasanya tanpa dilengkapi dengan argumentasi-argumentasi yang baik, sehingga sering kali dia tidak objektif dalam menyampaikan kritik. Karena biasanya mereka menggunakan narasi-narasi untuk membela dukungannya. Nah, ini yang membuat situasinya terkadang menjadi tidak baik. Kalau saya melihatnya seperti itu," ujar Eko.
Menurut Eko, menggunakan buzzer justru tak bisa dilakukan oleh lembaga survei resmi semacam Pollmark, karena ada aturan yang mengikat. "Lembaga-lembaga konsultan secara formal itu pasti agak sulit melakukan serangan membabi buta seperti yang dilakukan oleh buzzer itu, karena kami diikat oleh sebuah aturan-aturan yang memang itu akan berkonsekuensi kepada kami dan kandidatnya, sehingga yang kami lakukan tidak dalam kapasitas seperti itu," ujarnya.
Ia berpendapat, peran buzzer tak berpengaruh secara signifikan dalam kemenangan elektoral. Sebab, kelas pengguna sosial masih berada pada level menengah ke atas, bukan menengah ke bawah. Â
Netizen bernama Joshua Sihombing mengatakan tugas dan cara kerja buzzer adalah membagikan info di berbagai medsos dengan menggunakan lebih dari 2/3 akun medsos. Karena semakin banyak yang membagikan isunya, maka akan semakin cepat dan gampang tersebar infonya. Dengan cara itu, maka publik yang awam juga akan mendapatkan informasi yang sama. Menurutnya, buzzer punya peran penting dalam memengaruhi opini publik, tergantung bagaimana permintaan kliennya.
Kampanye JokowiÂ
Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Politican Review (Ipr) Ujang Komarudin mengakui, buzzer adalah fenomena baru di era demokrasi digital. Dan kehadiran buzzer merupakan suatu keniscayaan bagi para tokoh politik.
"Dulu Pemilu 2014 ketika akan kampanye yang dibutuhkan adalah ketua penggalangan massa. Nah di era digital ini yang dibutuhkan adalah para buzzer. Buzzer ini kan pasukan tempurnya para politisi. Tugasnya ada tiga, yaitu membangun pencitraan tuannya, membusuki lawan, dan menetralisir pemberitaan," ujarnya.