Geliat Anggrek Dewata di Air Talas
- VIVA.co.id/ Lis Yuliawati
Muara Enim, VIVA – Gapura bernuansa Bali berdiri kokoh di kanan dan kiri jalan. Gerbang tersebut menjadi tanda pintu masuk ke sebuah desa. Menyusuri daerah itu, tampak rumah-rumah berhias ornamen dari Pulau Dewata. Sebuah pura pun terlihat di salah satu sudut di sana.
Adalah Desa Air Talas namanya. Berlokasi di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, permukiman ini banyak dihuni para transmigran asal Bali. Mayoritas mereka merupakan petani jeruk siam.
Di desa ini, jeruk siam tak hanya dijual dalam bentuk utuh, tapi juga dijadikan berbagai produk turunan seperti makanan dan minuman. Sejumlah ibu di desa itu yang mengolah beragam produk tersebut. Mereka memberi nama kelompok ini Ibu-ibu Desa Air Talas Mengolah Jeruk (Bude Arta Maju) Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur.
“Mulainya 2018,” ujar Ketua Bude Arta Maju KWT Subur Makmur Komang Meliasih saat ditemui VIVA bersama tim Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina dan sejumlah media lainnya, di Desa Air Talas, Selasa, 21 November 2023.
Suasana di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumsel.
- VIVA.co.id/ Lis Yuliawati
Kegiatan membuat ragam produk dari jeruk siam itu berawal ketika Pertamina datang ke Desa Air Talas memberikan bantuan bibit buah. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu lantas mengajak ibu-ibu untuk mengolah jeruk siam menjadi berbagai produk.
Gayung bersambut. Sekitar 35 orang yang semula tergabung dalam kelompok senam itu pun langsung setuju. “Kalau senam aja cuma sehatnya saja, gimana kalau dapat income dari kumpul-kumpul itu. Semuanya mau,” ujar Bendahara Bude Arta Maju KWT Subur Makmur Luh Sari.
Sejak itu, mereka bekerja sama membuat makanan dan minuman dari bahan dasar jeruk. Pertamina EP Limau Field membantu memberikan pelatihan dan peralatan. Terdapat empat produk yang dihasilkan yaitu sirop jeruk, selai jeruk, stik jeruk, pie susu jeruk.
Pada awalnya, ada sejumlah kendala yang dihadapi. Di antaranya pada produk sirop yaitu air dan larutan sirop menjadi terpisah setelah beberapa hari. Menghadapi masalah itu, para ibu tak patah arang. Mereka terus menerus melakukan percobaan sehingga akhirnya bisa menemukan formula pas dalam meracik sirop.