Golkar Belum Punya Figur Sepopuler SBY

 

Jelang Pemilu 2009  Golkar kian mendidih. Siapa calon presiden  si beringin ini, hingga kini belum jelas. Sejumlah faksi politik saling gesek.Kubu Akbar Tandjung, kubu Jusuf  Kalla, Surya Paloh dan Agung Laksono. Tanggal 17-20 Oktober 2008 ini partai pemenang Pemilu legislatif  2004 ini akan mengelar Rapat Pimpinan Nasional di Jakarta.  Agenda  tertera cuma satu, yakni  persiapan dan strategi pemenangan Pemilu.Tapi sejumlah politisi di Golkar yakin  soal calon Presiden bukan tidak mungkin mendominasi rapat ini.
Anggi Kusumadewi dari VIVAnews mewawancarai Ketua DPP Partai Golkar Firman Subagyo yang juga Ketua Harian Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Golkar, Selasa 14 Oktober 2008 terkait persiapan Rapimnas dan mulai disebut-sebutnya nama-nama calon presiden oleh partai ini. Berikut petikannya:

VIVAnews: Dalam Rapimnas nanti tanggal 17 akan membahas apa saja?
Firman Subagyo: Rapimnas masih akan berkonsentrasi penuh dengan strategi pemenangan pemilu legislatif, Golkar belum bergeser dari agenda itu. Kita pun konsisten dalam pembahasan agenda partai, misalnya membahas sejauh mana kesiapan Golkar menghadapi Pemilu 2009 serta memperkokoh keputusan partai atas berbagai kebijakan yang dikeluarkan. Sedangkan mengenai penetapan capres dan cawapres, itu akan dibahas nanti pada rapat pimpinan nasional khusus atau Rapimnassus setelah pemilu legislatif.
VIVAnews: Mengenai usulan nama-nama capres yang sudah beredar dalam internal Golkar, apakah akan ditampung dalam Rapimnas nanti atau pintu untuk mengusulkan masih tertutup atau belum bisa diakomodasi?
Firman Subagyo: Sebagai proses demokrasi tentu nama-nama tersebut akan ditampung sebagai masukan tetapi belum akan diproses lebih lanjut. Golkar kan merupakan parpol yang banyak pengalaman, kami juga harus realistis dalam menghadapi persoalan dan memahami persoalan. Bahwa pemilu presiden sangat berbeda dengan pemilu legislatif. Kalau pemilu legislatif kecenderungan rakyat akan memilih partai sedangkan kalau pilpres rakyat memilih figur.
VIVAnews: Kalau nama-nama calon tersebut cukup banyak apa mungkin mengadakan konvensi lagi?
Firman Subagyo: Konvesi memang sebuah cara tetapi ada yang dilakukan dengan benar ada yang dilakukan dengan salah. Konvensi tahun 2004 itu salah karena ditentukan oleh ketua partai. Konvensi yang dulu dilaksanakan oleh Golkar tahun 2004 itu bukan representasi rakyat, karena itu sekarang kami lebih memilih metodologi survei, representasi rakyat  tidak selalu sama dengan representasi partai. Karena itu Golkar harus belajar dari pengalaman yang lalu, misalnya dalam pilkada banyak ketua partai yang mencalonkan diri menjadi kepala daerah tetapi toh tidak menang. Jadi ternyata mereka setelah disurvei terbukti tidak populer. Kalau posisi Golkar memang belum mempunyai figur yang bisa sepopuper SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) maka lebih baik kami kan mengadakan koalisi, kami tidak mementingkan kekuasaan yang penting bangsa dan negara
VIVAnews: Kalau misalnya metodenya digabung, antara survei dan konvensi, survei dilakukan lebih dulu lalu konvensi?
Firman Subagyo: Kemungkinan selalu ada. Misalnya dalam pilkada kami mensurvei calon sebanyak-banyakinya kemudian kami susutkan menjadi 5 sampai 3 orang yang kemudian dipilih satu saja. Yang penting di sini adalah elektabilitas dari calon tersebut. Memang mekanisme penentuan capres dan cawapres belum dibahas tetapi itu nanti akan kami bahas sistem kami seperti apa. Yang penting bagi Golkar harus demokratis dan realistis, tidak seperti konvensi terdahulu yang demokratis namun tidak realistis sehingga akhirnya calon Golkar kalah.
VIVAnews: Kalau calon-calon yang diusung SOKSI, MKGR atau Kosgoro nantinya, apakah memiliki pengaruh signifikan di rapimnas?
Firman Subagyo: Sebenarnya biasa itu adalah dinamika demokrasi. Setiap warga negara kan berhak untuk mencalonkan dan dicalonkan, juga untuk memilih dan dipilih, nanti itu semua akan kembali pada mekanisme partai. Jadi usulan tersebut dinamika internal yang akan kita kembangkan, namun tetap parpollah yang akan menentukan