Eropa Larang Sawit RI, BPS: Neraca Perdagangan Kita Masih Bagus

Keterangan Pers Kepala BPS Suhariyanto di kantornya.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Arrijal Rachman

VIVA – Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia terhadap Uni Eropa, tidak mengalami perubahan signifikan, setelah Komisi Eropa meloloskan kebijakan pelarangan penggunaan minyak kelapa sawit sebagai biodisel pada 13 April 2019 lalu, untuk kemudian diadopsi oleh Parlemen Eropa.

img_title Minyak Sawit Sumbang Rp72 Triliun Terhadap Surplus, Menko Airlangga: Kekuatan Nasional

Rencana penghentian pemakaian minyak sawit sebagai biodisel atau bahan bakar hayati di Uni Eropa pada 2030, tercantum dalam dokumen Delegated Regulation Supplementing Directive of The EU Renewable Energy Directive II atau RED II. Pelarangan akan berlaku total mulai 2030, dan pengurangan dimulai sejak 2024.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, secara umum neraca ekspor impor Indonesia ke kawasan tersebut, secara kumulatif dari Januari hingga Maret 2019, masih mencatatkan surplus sebesar US$587 juta. Ekspor tercatat sebesar US$3,6 miliar, sedangkan impor US$3,02 miliar.

img_title CPO Kinclong Gegara B50, Intip Harga Referensinya November 2025

"Secara umum, neraca perdagangan kita masih positif," kata dia di kantornya, Jakarta, Senin 15 April 2019.

Namun, Suhariyanto mengakui, jika dirujuk berdasarkan per negara kawasan di Uni Eropa, memang neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit di beberapa negara akibat kebijakan itu. Misalnya, dengan Inggris, perdagangan Indonesia harus mengalami penurunan sebesar 22 persen, serta Belanda 39 persen.

img_title Lilin dari Minyak Sawit bisa Dipakai untuk Membatik

"Demikian juga Jerman, Italia, Spanyol, Rusia juga turun. Kita tahu, terjadi karena negative campaign CPO (Crude Palm Oil). Saya yakin, pemerintah sudah antisipasi dengan membuat berbagai kebijakan," tegas dia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Indonesia bersama dengan negara-negara produsen minyak kelapa sawit terbesar dunia, yakni Malaysia dan Kolombia, telah melakukan Joint Mission ke Belgia, untuk menekan Uni Eropa mencabut kebijakan diskriminasi kelapa sawit tersebut pada 8-9 April 2019.

Kunjungan itu dilakukan, lantaran kebijakan yang ditempuh Uni Eropa tersebut, dianggap tidak didasari atas penelitian yang benar terhadap dampak lingkungan dari minyak kelapa sawit. Metodologi dan hipotesa yang digunakan mereka tentang risiko dan pengaruh buruk kelapa sawit terhadap perusakan hutan itu dianggap ditetapkan secara sepihak, bertentangan dengan fakta yang ada, dan tanpa dilakukan impact analysis.

Ilustrasi Gorengan Bakwan

Bakwan Tetap Enak dan Sehat Meski Tanpa Tepung dan Minyak Sawit, Simak Resepnya

Meski menjadi favorit masyarakat Indonesia, bakwan sering dianggap tidak sehat karena penggunaan tepung dan minyak yang tinggi. Simak resep bakwan berikut ini

img_title
VIVA.co.id
27 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut