Harga Minyak Tembus US$115 per Barel, Rupiah Ikut Tertekan
- Reuters
Erwin menjelaskan, memburuknya sentimen risk-off ikut mendorong penguatan dolar AS. Sentimen ini menggambarkan kecenderungan investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan memilih instrumen yang dinilai lebih aman.
Perubahan preferensi tersebut juga terjadi bersamaan dengan kenaikan imbal hasil atau yield obligasi.
Arus Keluar Modal Asing dan Kekhawatiran MSCI
Dari dalam negeri, BI menyoroti kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. Kekhawatiran tersebut dinilai turut menekan aliran dana ke pasar keuangan domestik.
MSCI merupakan penyedia indeks pasar saham yang digunakan investor global sebagai salah satu acuan dalam mengambil keputusan investasi. Karena itu, perubahan klasifikasi pasar dapat menjadi perhatian pelaku pasar dalam menilai alokasi investasi.
Namun, dalam keterangannya, BI menyebut kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi tersebut sebagai salah satu faktor yang menekan aliran dana, bukan sebagai keputusan yang telah dipastikan terjadi.
Selain sentimen terkait MSCI, kebutuhan valuta asing (valas) di dalam negeri yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan terhadap rupiah.
"Dari domestik, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan," terang Erwin.
Rupiah Melemah 1,15 Persen Secara Bulanan
BI menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan perkembangan mata uang negara-negara kawasan. Meski demikian, tekanan terhadap rupiah tercermin dari pelemahan yang tercatat secara bulanan sebesar 1,15 persen.
Pada penutupan perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026, rupiah berada di level Rp18.184 per dolar AS. Mata uang Garuda melemah 28 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, sebelumnya menilai pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off dan berlanjutnya aksi jual bersih investor asing di pasar keuangan Indonesia.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk-off dan net sell asing yang berkelanjutan. Indeks dolar AS yang masih terus naik menjelang FOMC juga ikut menekan rupiah," ujar Lukman.