- VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis
Lalu program eksternal kedua adalah hubungan antara alumni TI dengan berbagai alumni lain apakah yang di ITB.
Dari data yang ada hingga saat ini, kiprah alumni Teknik Industri TTB di mana saja?
Saya bisa katakan sudah merambah kemana-mana. Makanya, dari sisi data base masih lemah. Dari sisi apa yang saya ketahui, ada yang di DPR, ada Pak Kuntoro Mangkusubroto (UKP4), ada juga Deputi Senior Bank Indonesia Sarwono, pengusaha-pengusaha, banyak sekali. Ada juga di lembaga sosial, di Singapura. Kalau dari sisi yang saya ketahui sudah mulai dari politik, pemerintahan, sosial, apalagi pengusaha, sangat banyak.
Dikaitkan dengan rencana pembangunan jangka panjang, seberapa banyak peluang dari lulusan Teknik Industri?
Saya berikan sedikit gambaran apa yang ingin dibangun bangsa ini jangka panjang. Sampai 2025, presiden mencanangkan MP3EI dan PPP, dua dokumen itu intinya untuk maju. Nah dari sisi angka yang ingin di capai dalam MP3EI adalah pendapatan perkapita yang sekarang pada US$3.400 menjadi US$15.000 perkapita.
Dari sisi size ekonomi Indonesia maka kami ingin mencapai pertumbuhan ekonomi yang sekarang sekitar pada tingkatan 17 besar dunia menjadi 12 besar dunia. Itu ditargetkan 15 tahun dari sekarang. Untuk mencapai itu kita perlu membangun daya saing dan membangun ekonomi Indonesia tidak hanya di Jawa tetapi juga di pulau-pulau besar, di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, Maluku, harus kita buka pintu gerbang-pintu gerbang lain di Indonesia.
Intinya di sana adalah meningkatkan nilai tambah sumber daya yang kita miliki dengan membangun industri-industri, dengan kata kunci seperti itu kita lihat ada sebuah peran penting dari Teknik Industri itu masuk kesana. Pertama, teknik industri di dalam  diajarkan pemahaman mengenai pentingnya membangun sistem. Sistem apapun, sistem industri, sistem sosial, jadi karena ini kemudian mengarah kepada suatu produktifitas yang tinggi. Kita tahu produktifitas yang tinggi akan menentukan daya saing.
Dari sisi pemerintah misalnya saya melihatnya dari sisi sistem tadi. Sayamelihat secara luas, bagaimana sistem itu harus dikembangkan secara lebih luas. Makanya saya bilang, kesempatan profesi TI yang kaitannya mendukung rencana visi bangsa Indonesia di 2025 di berbagai sektor. Misalnya tetap saja ada satu sistem membangun agar lebih optimal. Kami juga menginginkan karena diajarkan dari berbagai aspek perindustrian,  diajarkan menjadi wirausaha, jadi tidak hanya menjadi pegawai tetapi dia menciptakan peluang-peluang usaha.