- VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis
Lalu yang ketiga, eksposure Indonesia ke barat itu relatif kecil dibanding dengan negara-negara tetangga. Kontribusi ekspor impor kita kira-kira dibawah 30 persen, sehingga kita memang domestik market kita yang kuat. Jadi dari kondisi ini makanya selalu di berbagai media pemerintah mengatakan kita kondisinya aman, tenang saja. Kita mengharapkan janganlah sampai terjadi krisis lagi karena ini adalah momentum buat Indonesia yang sekarang sedang tumbuh di level 6,5 persen, kita ingin naik ke tujuh persen.
Kalau terjadi krisis bagaimanapun ini akan meredam potensi pertumbuhan ekonomi yang 6 sampai 7 persen. Ini kita harapkan ada satu komitmen bersama terutama di negara-negara maju untuk menyelesaikan permasalahan mereka diantara mereka sendiri agar tidak berpengaruh pada ekonomi dunia.
Ada potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia terpengaruh?
Kalau sampai terjadi krisis global, potensi itu ada. Makanya kita harus melakukan langkah-langkah terobosan dan tidak biasa. Kalau kita melangkah seperti biasanya, maka pertumbuhan 6,5 persen itu bisa turun. Apa langkah-langkah terobosannya, yaitu upaya yang lebih baik dan efisien dan tidak biasa, mengatasi korupsi, masalah birokrasi, masalah koordinasi. Bayangkan dengan permasalahan yang masih kita hadapi itu kita bisa tumbuh. Kalau kita bereskan saja isu mengenai komunikasi, biaya yang mahal dan birokrasi yang masih bermasalah, akan lebih bagus lagi.
Kita bisa mengatasi hambatan potensi yang tadi masalah itu, karena sekali lagi kita harus tidak biasa. Coba saja misalnya pelabuhan kalau pelabuhan kita perbaiki maka lebih efisien. Ini mengenai dalam negeri. Luar negeri memang tidak bisa kita abaikan, tapi luar negeri itu sekarang sangat melihat Indonesia. Kalau Indonesia bisa mengatasi hal itu, mereka akan berusaha masuk, karena diluar sedang nggak bagus. Mereka pasti akan lari kesini. Kita kan punya market yang besar 240 juta. Itulah bagaimana kita membangun infrastruktur yang cepat, efisien, lebih baik kita tahu akan naik, Rp9.000 ya Rp9.000 tapi jangan naik turun.
Perlu kebijakan fiskal seperti 2008?
Justru kebijakan fiskal kita yang paling penting kita dorong sekarang adalah pengefektifan atau mengefisienkan anggaran mengenai distribusi dan alokasi belanja pegawai yang terlalu tinggi dari belanja barang. Karena kita tetap mengarah kepada bagaimana kita mengamankan jangan sampai fiskal itu menjadi terbebani oleh utang pemerintah, dan kita juga berusaha untuk tetap menjaga posisi defisit yang lebih baik. Artinya apa dari sisi penerimaan, pajak itu harus tetap ditingkatkan karena potensi itu masih ada, bukannya kita mau ekstensivikasi tetapi lebih kepada intensifikasi, mendorong orang seharusnya membayar sehingga membayar, bukan menambah orang yang tidak harus bayar. kita ingin orang yang harus bayar sekian ya harus bayarnya sekian, itu dari sisi penerimaan.