Mengenal Cyber Drone 9, Polisi Internet Indonesia

Teguh Arifiyadi, Kasubdit Penyidikan dan Penindakan Kominfo.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Lazuardhi Utama

VIVA – Mendengar nama 'Cyber Drone 9' mungkin terbayang sebuah pesawat terbang nirawak yang melakukan pemantauan atau surveillance. Padahal tidak demikian wujudnya.

img_title Konten Radikalisme Menurun, Kominfo Terus Patroli

Ini adalah sistem baru milik Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai pengganti sistem pemblokiran konten internet negatif yang telah ada sebelumnya, Trust+, yang secara de facto dibubarkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Kasubdit Penyidikan dan Penindakan Kominfo, Teguh Arifiyadi, Cyber Drone 9 akan membantu mempercepat cara kerja melawan konten negatif.

img_title 10 Hari, Kominfo Hapus 3.195 Konten Berbau Radikalisme

Terlebih, dengan tambahan kecerdasan buatan atau artifical intelligence (AI), cara kerja mesin sensor internet ini akan serba-otomatis.

Sistem yang memiliki ruangan khusus di lantai 8 Gedung Kominfo tersebut membantu tim yang berjumlah 58 orang ini untuk mempercepat proses pencarian atau crawling konten negatif.

img_title Mesin Sensor Kominfo Diklaim Sukses Buang Konten Radikal

"Secara ideal melakukan penapisan bisa dimulai dari IP filtering, hosting, URL ataupun dari kontennya. Untuk melakukan itu semua, maka dari itu kami harus memilih yang mana melanggar aturan," kata Teguh.

Sistem tersebut diterapkan di router untuk memantau aliran data secara real-time dan melakukan tindakan atas aliran tersebut, sehingga dikhawatirkan bakal menggerus privasi pengguna internet di Indonesia.

"Cyber drone akan membantu kami men-supply informasi tentang ribuan bahkan puluhan ribu situs serta akun penyebar konten negatif seperti pornografi, perjudian, penipuan, persekusi, hoaks, dan ideologi radikal, dalam waktu relatif cepat," ungkapnya.

Jumlah situs-situs yang di-crawling di Security Operations Center Kominfo.

Kerja Tiga Shift

Cyber Drone 9 terdiri dari dua ruang utama, Security Operations Center (SOC Room) dan War Room. Untuk SOC Room adalah 'dapur' dari segala aktivitas pemantauan dan pengendalian terhadap konten negatif.

Tim yang terdiri dari 58 anggota ini bekerja tiga shift selama 24 jam. Sedangkan, War Room, yaitu ruang rapat sekaligus untuk mengambil keputusan, di mana hasil kerja cyber drone ini akan diverifikasi ulang oleh tim secara hati-hati.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Sebelum akhirnya diputuskan bahwa situs atau akun tersebut harus 'dieksekusi mati.' Jadi, manusia sebagai eksekutor terakhir," ujarnya, menegaskan.

Teguh juga memastikan Cyber Drone 9 tidak dibekali ‘senjata pembunuh’ akun, situs, ataupun sejenisnya. Tak hanya itu, mesin sensor bukan mesin penyadap penggunaan internet yang memakai sistem Deep Packet Inspection (DPI).

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut