Kejahatan Siber 2020 Diprediksi Targetkan Aplikasi Investasi

Ilustrasi pelaku kejahatan siber.
Sumber :
  • Pixabay

VIVA – Tren kejahatan siber di tahun 2020 diprediksi mengalami peningkatan dari tahun ini. Penjahat yang memiliki motif finansial diramal akan mengincar aplikasi investasi, sistem pemrosesan data keuangan online dan mata uang kripto. 

Dari rilis resmi perusahaan keamanan siber Kaspersky, Rabu, 11 Desember 2019, tahun ini para peneliti sudah melihat perkembangan signifikan pada industri fintech dan bagaimana hacker beroperasi. 

Berdasarkan peristiwa yang sudah terjadi, para peneliti merilis prediksi ancaman finansial 2020. Berikut ulasannya. 

Fintech under attack

Aplikasi investasi tengah menjadi tren di dunia, bukan hanya Tanah Air saja. Terlebih tidak semua aplikasi memiliki sistem keamanan yang baik, seperti otentikasi multi-faktor atau perlindungan koneksi aplikasi. 

Trojan mobile banking 

Dalam sebuah forum dikatakan kode sumber dari beberapa Trojan perbankan seluler populer telah bocor ke domain publik. Sebelumnya kasus ini pernah terjadi dengan sumber malware Zeus atau SpyEye. 

Serangan ransomware terhadap bank

Hadapi Informasi Tak Jelas, Masyarakat Diminta untuk Cerdas

Diprediksi adanya peningkatan penjualan jaringan akses dari kriminal ke kriminal ke bank-bank di kawasan Afrika dan Asia, serta di Eropa Timur. Target utamanya adalah bank kecil dan organisasi keuangan yang dibeli pemain besar. 

Magecarting 3.0

Pelaku Kejahatan Siber Terus Mengintai

Sistem pemrosesan pembayaran online diramalkan menjadi korban siber terbesar. JS-skimming (metode mencuri data kartu pembayaran dari toko online) telah mendapatkan popularitas di kalangan pelaku kejahatan siber.

Ahli memprediksi ada 10 aktor berbeda yang terlibat dalam serangan ini, dan akan terus bertambah hingga tahun 2020. Kemungkinan serangan paling berbahaya dapat terjadi pada ecommerce. 

Kejahatan Siber Ini Bakal Marak di 2021
Ilustrasi kejahatan siber.

Jumlah Pengguna Internet dan Keahlian Literasi Digital Tak Sesuai

Kominfo mencatat peningkatan jumlah pengguna internet di Indonesia belum diikuti dengan kemampuan literasi digital yang mumpuni.

img_title
VIVA.co.id
29 Desember 2021