Perlunya Branding Danau Toba sebagai Wisata Dunia

Adian Nalambok, Danau Toba, Sumatera Utara.
Adian Nalambok, Danau Toba, Sumatera Utara.
Sumber :
  • VIVA/Sumiyati

VIVA – Prof Harini Muntasib, pakar ekowisata dari IPB University menyampaikan tentang optimalisasi sektor pariwisata Danau Toba melalui pengembangan wisata berwawasan lingkungan. Ia menerangkan, branding Danau Toba sebagai danau dengan gunung berapi paling aktif di dunia perlu pertajam.

Dosen IPB University itu menyebut, dalam interpretasi alam Toba melalui film kepada pengunjung juga perlu ditambahkan obyek biologi, geologi, dan sosial budaya. Menurutnya, jejak letusan Toba sebagai museum alam yang luar biasa perlu disorot. Ia mencontohkan, misalnya jejak berupa endapan piroklasik dan mata air panas. Di sisi lain, terdapat endapan lahar dan endapan diatom pembentuk danau yang sering diabaikan sebagai obyek geologi.

Tidak hanya itu, beragam jenis tumbuhan bumbu dan obat di sekitar Danau Toba sebagai produk hasil hutan juga dapat menjadi daya tarik. Danau Toba juga memiliki berbagai jenis ikan endemik yang menarik untuk ditelusuri.

“Ada interaksi antara alam dengan masyarakat, sehingga membentuk budaya yang khas sekali, dimana masyarakat di sekitar Toba membentuk adaptasi-adaptasi, mitos dan sejarah, ini semua adalah bahan tema-tema dalam konteks interpretasi sebenarnya. Alam berbicara kepada pengunjung, berbicara kepada masyarakat,” ungkap Prof Harini Muntasib dalam International Conference Heritage of Toba: Natural and Cultural Diversity yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Kompas, secara daring, Rabu (13/10).

Prof Harini Muntasib, pakar ekowisata dari IPB University  (ipb.ac.id)
Photo :

Prof Harini Muntasib, pakar ekowisata dari IPB University (ipb.ac.id)


Dosen IPB University dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan itu juga menyebut, peta wisata atau perencanaan interpretasi dapat disusun dalam rangka pengembangan.  Dari data tersebut, dapat dibangun juga information center bagi para pengunjung wisata.

Baranding Danau Toba

Ia turut menyarankan supaya dibuat suatu film berdasarkan skenario cerita interpretasi terjadinya Danau Toba dan Danau Samosir sebagai daya tarik wisata. Film tersebut dapat menampilkan kondisi saat letusan gunung api Toba. Mulai dari sebelum hingga terjadinya letusan.  Menurutnya, upaya ini dapat menarik perhatian banyak mata dari seluruh dunia.

“Danau Toba merupakan jejak dari letusan terbesar di dunia. Ini harus menjadi kebanggaan luar biasa bagi kita yang perlu diangkat untuk keperluan branding tadi,” tambah Prof Harini dilansir VIVA dari keterangan pers IPB Universtiy, Jumat (15/10).

Tidak hanya itu, Prof Harini juga menyarankan agar masyarakat membagun rasa bangga terhadap Danau Toba. Pasalnya, dari 10 Kabupaten di sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir diharapkan mempunyai persepsi yang sama dalam memandang Toba.

Prof Harini juga menyarankan supaya mekanisme pengelolaan kolaboratif wisata Toba dapat melibatkan pemerintah maupun non pemerintah. Namun tetap dalam persepsi yang sama, terutama dalam pelestarian sumberdaya. Tidak hanya itu, dalam kolaborasi ini hak masyarakat adat dari aspek sosial dan budaya juga diutamakan supaya menjadi salah satu daya tarik wisata Toba.