Griya Schizofren: Mengubah Paradigma dan Membangun Kesadaran
- iStock.
VIVA – Masalah kesehatan mental adalah salah satu isu kesehatan yang paling sering diabaikan dan dihindari dalam masyarakat kita. Stigma buruk yang melekat pada orang dengan masalah kesehatan mental adalah salah satu hambatan utama dalam upaya mengatasi masalah ini.Â
Stigma buruk tersebut dapat memperburuk penderitaan individu yang sudah berjuang dengan masalah kejiwaan mereka sendiri, sehingga menghambat proses pemulihan dan akses mereka terhadap perawatan yang tepat. Stigma adalah penilaian negatif dan stereotip yang dilekatkan pada kelompok tertentu dalam masyarakat.
Dalam konteks masalah kesehatan mental, stigma buruk dapat mengacu pada pandangan negatif dan stereotip yang melekat pada orang-orang yang mengalami masalah kejiwaan seperti depresi, kecemasan, skizofrenia, atau gangguan bipolar. Stigma ini dapat berupa perlakuan diskriminatif, ejekan, atau bahkan isolasi sosial.
Stigma buruk terhadap masalah kesehatan mental memiliki dampak yang serius, baik bagi individu maupun masyarakat secara keseluruhan. Beberapa dampaknya meliputi:
Hambatan Akses Perawatan: Orang dengan masalah kesehatan mental mungkin enggan mencari perawatan medis atau dukungan karena takut menjadi sasaran stigma. Hal ini dapat mengakibatkan penundaan dalam diagnosis dan pengobatan yang tepat.
Isolasi Sosial: Stigma dapat mengakibatkan isolasi sosial, di mana individu dengan masalah kesehatan mental merasa terisolasi dan ditinggalkan oleh keluarga, teman-teman, dan masyarakat luas.
Ilustrasi stres.
- Marine Corps Times
Stigma buruk dapat menghambat pemulihan individu dengan masalah kesehatan mental. Mereka mungkin merasa malu atau rendah diri, yang bisa memperburuk kondisi mereka.
Orang dengan masalah kesehatan mental yang mengalami stigma cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih buruk secara keseluruhan. Mereka mungkin mengalami pekerjaan yang tidak stabil, hubungan sosial yang terganggu, dan penurunan kesejahteraan umum.
Griya Schizofren
Awalnya bermula dari kepekaan dan empati terhadap orang yang mengalami masalah kejiwaan (ODMK), tiga mahasiswi jurusan Sosiologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret (UNS), yaitu Triana Rahmawati, Febrianti Dwi Lestari, dan Wulandari, memulai suatu perjalanan yang menginspirasi.
Mereka telah merintis proyek yang dikenal dengan nama Griya Schizofren sebagai wujud nyata kepedulian mereka. Langkah pertama mereka adalah bergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa-Pengabdian Masyarakat di UNS.