Si Mungil Keranjingan Games

Ilustrasi video game.
Sumber :
  • Pixabay/Monikabaechler

img_title Inikah Cara Terbaik Mengajarkan Anak Bicara?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sukiman menambahkan, orangtua memang harus bisa meyakinkan anak untuk bermain game sesuai dengan porsi, dan tidak perlu melarang anak. Sebab, semakin dilarang, anak akan semakin penasaran dan malah main 'kucing-kucingan', misal ketika orangtua tidur atau main di luar rumah. 
img_title Ketahui Indikator Bahaya Penyebab Anak Tumbuh Pendek


img_title Bunda, Ini Pentingnya Sarapan Bagi Tumbuh Kembang Anak
Orangtua, kata dia, bisa mengajak anak diskusi secara logika dan memberikan penjelasan dan meyakinkan bahwa main game sampai lupa waktu bisa merugikan dirinya. Diharapkan anak bisa mengerem keinginannya main game.

"Jadi kembali lagi komunikasi positif. Pengasuhan positif jadi hal yang penting," kata dia.

Sukiman menyarankan, antara anak dan orangtua melakukan kesepakatan main game hanya pada akhir pekan, dan hari lainnya fokus untuk belajar. Orangtua juga bisa mengalihkan main game yang sifatnya soliter dengan melakukan aktivitas bersama yang menyenangkan, seperti main kejar-kejaran, petak umpet dan lainnya.

Sementara Nurwati mengaku bahwa dia bersama suami memang lebih disiplin kepada putranya sejak setahun terakhir, karena tidak mau buah hatinya kecanduan main game. Dari sebelumnya dia membebaskan waktu main game, Gibran sekarang hanya diizinkan main sekitar satu jam tiap harinya di tablet, sementara saat akhir pekan, dia bisa main game di PlayStation (PS), namun tetap didampingi.

Nurwati menuturkan, awalnya memang sulit mendisiplinkan putranya. Hal pertama yang dilakukan adalah menghapus semua game di smartphone, membatasi porsi main dan memantau semua game yang dimainkan, baik di tablet maupun PS.

"Sekarang Gibran sudah tahu dan bisa dibilangi, tahu waktu makan, mandi, belajar, tidur dan main di luar dengan teman-temannya. Kami juga masih mengontrol game yang dimainkannya," ujar dia.

Tak jauh beda dengannya, Atika juga mulai memantau anaknya main game dan sering menyembunyikan tablet putrinya. Dia pun mengalihkan keinginan anaknya main game dengan permainan yang lebih banyak membutuhkan aktivitas fisik, seperti masak-masakan, lego atau mengajaknya jalan-jalan.

“Saya suka menyembunyikan tablet atau bilang lowbat. Kadang, saya mengajaknya main yang banyak gerak atau jalan-jalan, sehingga dia lupa,” ujarnya.

Tak Melulu Negatif

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Selain memberi pendampingan, kontrol dan batasan, Sukiman menuturkan, sebaiknya orangtua juga menambah wawasan mengenai dampak positif dari bermain game, karena game tidak melulu memberi dampak negatif.  Dengan demikian, masalah digital bukan menjadi musuh tapi teman yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran dan perkembangan anak.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut