WFH Picu Rambut Rentan Rusak, Kok Bisa?

Ilustrasi rambut rontok.
Ilustrasi rambut rontok.
Sumber :
  • vstory

VIVA – Pakar mulai menilik ragam dampak buruk dari work from home (WFH) yang tengah dijalani sejak adanya pandemi COVID-19. Meski masih sekedar teori dan dugaan, dampak pada kesehatan akibat WFH cukup nyata, termasuk pada rambut.

Pakar Medis, dr. Reinita Arlin Baskoro mengatakan bahwa tren WFH membuat orang terlalu asik berdiam diri di rumah. Pada akhirnya, masyarakat menjadi minim perhatian untuk kesehatan seperti jarang berolahraga, mengaplikasikan perawatan kulit wajah, serta jarang merawat rambut.

Hal ini yang kerap diabaikan namun bisa berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan. Sebab, rambut yang rusak dan tak sehat dapat memicu penurunan kepercayaan diri yang nantinya berdampak pada kesehatan mental. Tentunya, kesehatan rambut pun membuat pertumbuhan jamur lebih rentan.

"WFH di rumah aja. Bahaya orang kadang malas rawat rambut. Biasanya gitu. Kalau nggak rutin bersihkan kulit kepala, sama aja simpan bakteri dan terjadi pertumbuhan jamur," ujar Reinita dalam acara virtual People With Us, baru-baru ini.

Ilustrasi rambut bercabang.
Photo :
  • U-Report

Ilustrasi rambut bercabang.

Reinita menambahkan bahwa masalah rambut ini dapat terlihat secara keseluruhan dari survey yang menunjukkan 16 persen pria usia 18-39 tahun mulai alami kerontokan rambut. Terlebih saat masuk usia 40 tahun, makin banyak rambut yang berkurang sehingga nyaris 50 persen.

"Kalau pria mulainya dari atas kepala dulu botak, lama-lama menyeluruh. Survei pada lembaga lain di riset internasional, dari 601 wanita di Indonesia 45 persennya mengalami masalah rambut, mulai dari rontok, masalah di batang rambut dan kurang bervolume," ujar pembawa acara program Hidup Sehat tvOne itu.

Lebih dalam, Reinita menganjurkan agar oil dan serum dapat digunakan sebagai salah satu rutinitas perawatan rambut. Untuk perawatan rambut, bahan yang baik adalah Biotin dan Amino Acid, yang selain dapat diperoleh melalui makanan, baik juga untuk digunakan secara topikal atau leave in di kulit kepala.