Anak 6 Tahun Sudah Kena Diabetes, Waspada Jika Terbiasa Minum Susu Berperisa

Ilustrasi anak minum susu
Sumber :
  • Pixabay/Candice_Rose

VIVA Lifestyle – Peningkatan konsumsi gula, garam, dan lemak telah menjadi perhatian utama di Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya diabetes dan obesitas, terutama pada anak-anak dan remaja. 

Tantrum pada Anak, Apakah Ada Kaitannya dengan Makanan yang Dikonsumsi Sang Ibu Selama Kehamilan?

Mengutip laporan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pada penelitian yang dilakukan di Bali terhadap anak berusia 12-14 tahun ditemukan setidaknya 3 persen anak dari 431 subyek mengalami diabetes melitus (DM) tipe 2. Dari jumlah itu, sebanyak 76,9 persen mengalami obesitas. Scroll untuk info selengkapnya.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Muhammad Faizi, mengatakan kasus diabetes melitus tipe 2 pada anak semakin banyak dilaporkan. Usianya pun semakin muda. Dari laporan yang diterima oleh IDAI, usia anak dengan diabetes melitus (DM) tipe 2 ditemukan pada usia 6 tahun.

Hari Buku Sedunia, Starbucks Indonesia Serahkan 8.769 Buku untuk Anak-anak

”DM tipe 2 ini sangat berkaitan dengan gaya hidup. Biasanya DM tipe 2 ini ditemukan pada anak yang gemuk,” kata Muhammad Faizi dalam keterangannya, dikutip Senin 19 Februari 2024.

Obesitas anak.

Photo :
Geger Seorang Remaja Alami Hal mengerikan Ini Gegara Ikut Challenge di Sosmed

Oleh karena itu, peningkatan kesadaran dan pencegahan terhadap kebiasaan konsumsi gula berlebih menjadi sangat penting untuk menanggulangi lonjakan kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia.

Kebiasaan konsumsi makanan dan minuman yang tinggi kandungan gula misalnya, seperti susu kental manis ataupun susu berperisa lainnya, adalah pemicu kebiasaan makan yang keliru pada anak-anak. Tidak hanya berisiko terhadap obesitas dan diabetes, tapi juga tumbuh kembang anak dalam jangka panjang.

Dokter spesialis anak RS Permata Depok, dr. Agnes Tri Harjaningrum, MSc., Sp.A, mengatakan, paparan gula tinggi pada usia dini juga dapat mengganggu metabolisme tubuh anak-anak dan memengaruhi pertumbuhan serta perkembangan mereka secara keseluruhan. 

Kebiasaan konsumsi gula tinggi juga dapat menyebabkan masalah seperti kecanduan minuman dan makanan manis.

"Konsumsi gula tinggi pada usia dini dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan masalah kesehatan lainnya pada masa dewasa," jelasnya. 

Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya orangtua membiasakan memerhatikan label gizi pada produk yang diberikan kepada anak-anak mereka. 

"Orangtua harus lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman yang diberikan kepada anak-anak. Pengurangan konsumsi gula tinggi, termasuk susu kental manis, dapat membantu mencegah berbagai masalah kesehatan di masa mendatang," tambah dr. Agnes.

Orangtua memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing anak-anak mereka tentang pola makan yang sehat. Edukasi tentang bahaya memberikan gula berlebih pada anak tidak boleh diabaikan. Mengajarkan anak-anak untuk memahami pentingnya membatasi konsumsi gula, serta membantu mereka mengembangkan kebiasaan makan yang seimbang, adalah langkah penting dalam menjaga kesehatan mereka. 

Selain itu, penting bagi orangtua untuk menjadi contoh yang baik bagi anak-anak mereka. Memilih makanan dan minuman yang sehat, serta membatasi konsumsi gula sendiri, dapat memberikan dampak yang positif dalam membentuk kebiasaan makan anak-anak.

Tidak hanya itu, edukasi tentang bahaya gula berlebih juga harus melibatkan pemahaman tentang label nutrisi pada kemasan produk makanan dan minuman. Orangtua perlu belajar untuk membaca label dengan cermat dan memahami berapa banyak gula yang terkandung dalam produk yang mereka beli untuk keluarga mereka.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya