Cita Rasa Sulawesi Tenggara pada Kabuto, Si Ubi Fermentasi

Kabuto, kuliner khas Sulawesi Tenggara.
Kabuto, kuliner khas Sulawesi Tenggara.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Kamarudin Egi (Sulawesi Tenggara)

Proses fermentasi atau pemeraman, bisa memakan waktu paling cepat tiga hingga empat hari, bahkan bisa butuh waktu seminggu atau lebih. Selama diperam beberapa hari ini, kabuto akan mengeluarkan semacam gas.

Gas ini disertai hawa panas ketika kabuto dibuka dari bungkusan daun. Malah hawanya bisa membuat tubuh kepanasan dan berkeringat dalam beberapa menit saat memisahkan bungkusan yang menyelimuti ubi kayu.

Tidak sampai di sini saja, setelah diperam, sebelum dikukus untuk dimakan, harus dijemur lagi selama empat sampai lima hari hingga kering dan mengeras.

Setelah mengering, juga harus direndam air sebelum masuk di wadah kukusan. Lama perendaman,  bisa memakan waktu hingga satu malam. Tujuannya, untuk melunakkan ubi agar nikmat disantap.

Setelah itu, potongan kabuto ini juga tidak langsung dikukus. Tetapi, sebelumnya ditiriskan dulu untuk mengurangi airnya sebelum dikukus. Lama pengukusan bisa setengah jam.

Ubi kabuto diambil dari jenis ubi kayu atau ketela yang pohonnya berdaun lebih kecil. Jenis ini berbeda dengan ubi pahit, atau biasa disebut masyarakat Sulawesi Tenggara dengan ubi karet. Ubi pahit memiliki daun dan batang yang lebih lebar dan besar.

Ketela pada umumnya akan di panen saat berusia lima bulan. Sementara ubi karet, meskipun lebih besar ukuran umbinya, baru bisa agak enak dikonsumsi setelah sepuluh bulan.